Monday, July 17, 2017

Buku Dewasa & Buku dengan Konten Dewasa

Hasil gambar untuk tiger on my bed

Buku dewasa, adalah buku yang isinya lebih berat daripada buku teenlit (atau buku remaja). Buku dewasa biasanya sarat akan pesan dan plot yang kompleks.

Berbeda dengan buku berkonten dewasa. Persetan dengan pesan, plot, atau cerita apa pun. Konten dewasa, alias konten yang tidak baik dikonsumsi mereka yang di bawah 18 tahun, maka akan punya label buku dewasa. Contohnya? Kekerasan, sadis, kontroversi, atau yang paling mudah membedakan buku dewasa dengan buku berkonten dewasa adalah sex content.

Maka, tak jarang kalau ternyata, buku-buku teenlit seperti misalnya karya Tere Liye, Salim A. Fillah, Felix Siauw, de el el lebih pantas disebut buku dewasa dikarenakan materi yang mendewasakan, tapi karena tidak ada konten kekerasan, vulgaritas, kontroversi, de el el, maka tidak disebut buku dewasa.

Oiya anyway. Thanks to om Christian Simamora, yang secara tidak langsung (atau langsung?) telah mengajarkan saya untuk membedakan mana novel porno dan mana novel vulgar.

Novel porno, bodo amat apa pun ceritanya, selama ada adegan seks yang blak-blakan, maka dia porno.

Novel vulgar, lebih menjadikan (contohnya materi seks) sebagian bagian dari cerita, alih-alih pelengkap cerita. Tidak paham maksud saya? Check out novel The Fifty Shades of Grey. Well iya sih emang pornografinya kuat banget, tapi materi seks di dalamnya adalah bagian dari cerita. Novel ini bercerita tentang kejiwaan dan seks.

The Game of Thrones? Apakah porno? Hmmm menurut saya sih nggak, tapi vulgar iya.

Dan yang bikin saya sedih, novel dengan label dewasa, yang menjual pornografi itu bebas banget terjual dimana-mana (i've gave one name, haha). Dan ternyata ada orang-orang yang membeli buku label dewasa itu, katanya supaya bisa lebih dewasa.

Dan pertanyaan nya...

Kenapa novel porno itu laku dan punya rating bagus dimana-mana, padahal ceritanya lebih tidak dewasa daripada novel yang tidak berlabel dewasa?

Tentang Make Up Alis Gue (beserta review)

Assalamu'alaikum, hola, temen-temen. Kali ini gue mau ngomongin yang keciwi-ciwian lagi, wkwk. Kali ini soal alis. Jadi alis gue itu tipis cuy, walau gak tipis tipis kali.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

Trus ternyata, kayaknya, kayaknya nih ya, kalo alis gue agak tebelan gue lebih manis gitu HAHAH *dirajam*. Jadi, gue beli lah make up make up alis. Cuma empat sih (cuma?), well, ini dia review make up alis gue!

1. Maybelline Fashion Brow Pomade Crayon
Kebetulan make up pouch gue ketinggalan di rumah temen, jadi pas nulis ini gue gak megang make up gue, jadi gatau deh nama warnanya apa. Yang jelas ini shade cokelat yang paling gelap.

Ini make up alis yang paling sering gue pake kalo lagi jalan-jalan (sejauh ini baru dipake buat jalan-jalan, gue belum ada acara apapun). Sebenernya gue pake make up alis cuma buat nebelin alis sih, bukan pengen yang kayak model-model gitu, atau kayak gambar dibawah ini ;D

Hasil gambar untuk crayon alis maybelline
i owe the pict

cara gue make krayon adalaaah : pertama gue gambar dulu seperti biasa, habis itu gue sisir ke atas (biar nyebar krayonnya), trus gue sisir lagi ke samping, udah gitu biasanya gue suka ngusap pake jari (supaya gak ketebelan). Ini nih contoh hasilnya :

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

atau

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.
yang tengah ya woy, wkwk

see, gue nyaris gak keliatan kayak pake make up alis, bener-bener natural, cuma keliatan kaya tebel doang kan? Tapi biasanya suka jelek di ujungnya, kayak sering belok banget atau kegedean, jadi yaa emang mesti pinter-pinter sih makenya. Liat aja foto yang belakangnya buku-buku, alis yang sebelah kanan (dari foto).

2. Maybelline Fashion Brow 24h Coloring Mascara
Gue juga suka banget pake ini, kadang gue pake kalo lagi outfit nya rada rempong. Tebel, warna, lebar alisnya, itu paaasss banget. Sukaakk. Tapi, jujur saja susah banget make nya, butuh skill, cuy. Soalnya neken dikit bisa ketebelan dan gak rata gel nya. Trus aku suka gak rapih di ujungnya. Sedih, padahal liat di google, orang-orang pada rapih makenya :(((

Hasil gambar untuk MASKARA alis maybelline

i owe the pict too

Ini dia beberapa hasil gue


maafkan muka sengak ini, candid by bokap

Foto Meuthia Nabila P.

anyway, my face was never been this flaw less, the auto-beauty made me feel so munak :D

bagus kan ya, gak keliatan ujungnya ;D

Over all, i really love this, mungkin mesti lebih banyak latihan untuk melatih skill *a elah*. Oiya warna nya juga cokelat shade yang paling gelap.

3. Etude House Drawing Eyebrow
Pertama kali nyobain ini, gue digambarin sama mbak-mbak yang jaga, dan hasilnya bagus banget, langsung naksir dah gua. Makanya tanpa mikir, gue langsung nabung buat beli ini. Oiya warna nya sama, cokelat shade yang paling gelap.

Hasil gambar untuk etude house drawing eyebrow
again, i owe the pict.

nih dia hasil yang dipakein sama mbak mbak wkwk

Foto Victor Quintoro.

Foto Victor Quintoro.

nah yang bawah ini make sendiri, ada yang gagal ada yang betul wkwk

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.
ini edisi gagal make, jadi jelek banget hasilnya haha

Cara makenya, ya gatau sih betul apa nggak nih caranya. Gue gambar seperti biasa (mengikuti garis alis asli gua), tapi krayonnya vertikal. Gue gambarnya gak naik, tapi datar, trus baru deh ujungnya gue gambar dengan krayonnya miring (horizontal). Terus gue usap pake jari, supaya gak ketebelan.

Ini dia beberapa yang (gue anggap) berhasil wkwk.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

maafkan kealayan saya wkwk, saya pun geli melihat wajah saya

Intinya, beda skill beda hasil wkwk. Akhirnya karena saya sering gagal make ini, jadinya saya cuma make sisirnya doang.

4. Pensil Alis
Pensil alis apa aja dah. Pensil lebih ribet lagi biasanya bro. Beda keruncingan, beda panjang pensil, beda hasil haha. Biasanya warna yang gue pake itu yaah paling cokelat tua lah. Merk nya random (gua gak punya pensil alis, biasanya gue make punya emak).

Ini dia salah satu hasil yang tak terduga, wkwk.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

Tapi ya gak bakal lah gue pake alis kaya gini cuma buat sehari-hari atau jalan-jalan, but i hope i can make some like this in menor occasion.

Okelaaah itu dia beberapa make up alis yang gue punya beserta review nya. Sekian semoga bermanfaat dan kalian suka, byeee wasalamu'alaikum!

Friday, July 14, 2017

Lelah Membenci Diri Sendiri

Saya orangnya ambisius, and everybody knows that. Tapi konyolnya, saya itu ceroboh dan sebenernya males.

Saya kerap membuat target yang tinggi untuk diri saya. Saya banyak mengikuti kegiatan, banyak melakukan ini dan itu, supaya saya bisa jadi orang yang lebih baik, lebih pinter, lebih dewasa, lebih ini itu. Well at least, i thought i'd be more bla bla bla by doing this, by doing that, by doing bla bla bla.

Misalnya, saya membuat banyak target yang harus saya lakukan selama liburan di antaranya :
1. Menulis 4 postingan di blog
2. Menonton 10 video edukatif di channel Youtube sehari
3. Membaca 10 artikel di situs favorit (itu lho yang suka saya sebut, tirto, qureta, askthephilosopher, de el el)
4. Menonton film terbaik (paling berkualitas) versi blogger tertentu, minimal 1 sehari
5. Khatam 1 judul buku dalam seminggu-an.

Saya 'berjuang keras' untuk ngelakuin 5 hal di atas. Tapi, pada akhirnya saya malah keteran sendiri, nggak enjoy, trus malah ending-endingnya yang saya lakuin cuma setengah-setengah. Dan karena tidak sesuai target, saya jadi merasa gak becus, bodoh, sial, menyedihkan. Saya benci diri saya. Saya benci saya tidak dapat melakukan hal-hal di atas dengan baik dan nikmat.

...

Saya pingin nikmatin liburan ini, saya pingin berlibur tanpa beban pikiran dan tuntutan sekali pun. Tapi, kalo saya gak ngelakuin hal-hal di atas, atau nggak produktif, berarti hidup saya sia-sia. I wasted my time. And i hate my self because of that.

Saya juga sepenuhnya sadar, ketika saya memutuskan bergabung dengan BEM, mengikuti berbagai kepanitiaan, menjadi volunteer pengajar SD di desa, mengikuti seleksi lab, mengikuti lomba, berarti saya keluar dari zona nyaman saya. Katanya, keluar lah dari zona nyaman mu, maka kamu akan lebih bla bla bla, pokoknya lebih baik lah gitu. Saya memang merasa terbebani dengan itu semua. Saya tidak nyaman. Saya capek, saya ini, saya itu. Terutama ketika saya gagal menjalani itu semua, saya makin sedih dan makin membenci diri saya sendiri.

...

Sebenarnya saya capek membenci diri saya ini. Saya capek menuntut banyak hal dari dalam diri saya. Saya ingin mencintai diri saya sepenuhnya, dan menikmati setiap momen.

Saya capek membenci diri saya sendiri....

...

Tapi lucu nya, saya gak bisa berdiam diri. Saya menganggap hidup saya sia-sia dengan tidak melakukan apa-apa. Saya harus tetap bergerak, walau sering gagal, walau saya menanggung beban berat.

Ketika saya membenci diri saya karena gagal menjadi lebih baik, berarti saya benci keadaan saya yang biasa-biasa, sekarang ini. Saya benci menjadi lebih baik. Bukan kah ternyata... Kita memang seharusnya membenci diri kita yang tidak lebih baik?

Bukan kah memang seharusnya kita tidak menyukai berdiam diri, dan tidak membuat diri ini menjadi bermanfaat bagi sesama?

Ketika saya gagal mencapai target kemudian membencinya, bukan kah berarti saya benci menjadi orang yang biasa-biasa saja?

At the end.

Ternyata saya menyadari.

Kalau kita terlalu nyaman dengan keadaan kita saat ini, kalau kita tidak berhasrat untuk mendorong diri kita lebih keras,

Kita tidak akan berkembang

Thursday, July 13, 2017

Yang Katanya Bukan Urusan Kita // Things that (shouldn't be) Matter

Orang tua berkewajiban menafkahi kita. Beberapa kebutuhan (finansial) kita, misalnya akademik, kesehatan, dan sehari-hari itu memang wajar kalo kita minta duit sama orangtua, ya karena memang itu kewajiban mereka.

Guru kimia kelas 12 saya selalu mengatakan, jangan mikirin berapa duit orangtua, dari mana mereka dapat duit, yang penting tunaikan kewajibanmu kepadanya dengan belajar tekun.

Dulu waktu masih kelas 12, saya sering cerita-cerita dengan sahabat-sahabat saya. Dan salah seorang dari mereka waktu itu bimbang. Dia pengen ikut les intensif SBMPTN. Jadi lesnya itu juga ada akomodasi berupa hotel sama pangan, jadi ya mahal lah, berapa puluh juta gitu. Orang tua dia dukung-dukung saja, seolah uangnya udah tersedia (bapaknya dokter umum, ibunya guru). Tapi dia nya yang galau, ya karena mahal itu. Kami gak pernah tau sih persisnya sekecukupan apa orang tuanya, sehingga dia itu seringan apa dalam mengeluarkan uang. But still, namanya anak ya. -Endingnya sih dia tetep ikutan les itu-.

Waktu kelas 9, dari sekolah ada yang namanya pemantapan. Tiap bulan bayar 100ribu. Waktu wali kelas ngingetin kami buat bayar uang pemantapan, saya denger temen sebangku saya nyeletuk gini "aduh kasian bapakku, uang tabunganku tinggal dikit lagi" (btw yang bagian uang tabungan itu saya kurang inget pastinya gimana ucapannya, pokoknya intinya gitu). Saya pingin ngebantu, tapi saya juga ga punya uang.

Sebenernya dia berhak sih minta duit ke bapaknya, tapi dia gak tega. Penghasilan bapaknya sebagai tukang ojek mana lah gampang buat ngeluarin cepek.

Seorang anak berhak minta duit ke orangtua nya untuk hal-hal seperti ini. Dan penghasilan orangtua shouldn't be matter. It's none of our business. But... Can we really ignore it?

Semua itu pilihan kita, terserah kita mau minta sama ortu apa nggak. Iya, terserah.

Tapi.

Semua ini, pada akhirnya, balik lagi ke nurani kita masing-masing, sebagai anak yang menyayangi orangtua nya, bukan sebagai anak yang butuh kewajiban dari orangtua nya.

Apakah Kau Tidak Seharusnya Pulang Saat Kau Pulang?

Waktu di perantauan, kita dikasih uang sama orangtua buat menghidupi kita sehari-hari. Ntah banyak atau sedikit, pasti kita menghemat, rasanya sayang mau ngeluarin duit. Atau, mending belinya ntaran aja, pas udah pulang, minta orangtua beli.

Jadinya, kita pulang dengan daftar barang yang kita perlukan, dan biasanya kita balik ke perantauan lagi dengan barang-barang baru ya, ga sih.

Menurut saya sih, gak masalah punya pikiran seperti itu, sebab sumber penghasilan kita masih dari orang tua, which is terbatas, dan orang tua kita kan kerja. Wajar kalo kita minta sama orangtua, apalagi pas pulang kan emang gak dikasih uang jajan selayaknya waktu kita di perantauan.

But, yang jadi masalah... Kadang kebutuhan kita itu gila-gilaan. Misalnya, pulang tah pengen beli tas kamping, tas sekolah, beli baju, beli rok, beli jilbab, ganti laptop, beli headphone, beli parfum, ganti kaca mata, beli sepatu, beli ini itu. Terus karena mumpung di kampung, makan makanan yang cuma ada di kampung, yang di perantauan itu gaada atau mahal. Pake uang siapa? Jarang saya menemukan kita memakai uang sendiri, ya apalagi saya HAHA.

Ya emang sih, wajar, nama nya juga kalo lagi pulang. Tapi orang tua menginginkan kepulangan kita karena merindukan kita. Apakah justru kepulangan anak malah menambah beban orangtua kita?

Mungkin tidak masalah sih kalau orangtua kita berkecukupan. Tapi gimana kalo ternyata, diem-diem, orangtua kita lagi banyak pengeluaran? Gimana kalau ternyata orangtua kita sedang ada masalah di kantornya misalnya, jadi penghasilannya seret? Dan mereka gak mau memberitahu kita, karena buah hati mereka sedang pulang, sedang ingin hidup enak -sebab di perantauan mendet terus- ?

Apakah kita tidak seharusnya pulang ketika kita pulang?

Sebaiknya, sejak dini, apalagi sekarang kita udah kuliah, udah besar, udah dewasa. Tunjukkan lah pada orangtua kita bahwa kita tidak hanya sudah dewasa secara usia, tapi kita sudah mandiri. Tidak ada salahnya kita memakai uang tabungan kita untuk membeli barang-barang yang kita inginkan (sebab saya masih banyak menemukan teman kita yang medit sama uang tabungannya). Gak minta duit ke ortu itu salah satu bentuk tanggung jawab dan kasih sayang kita ke ortu. Ayo dari sekarang coba cari duit sendiri.

Buktikan kita bukan anak mama atau anak papa lagi yang bisa nya minta uang.

Bukannya bisa ngasih uang ke orangtua itu salah satu cita-cita semua anak?

Monday, July 10, 2017

Lipstik yang Paling Sering Gue Pake


Hola hola. Sebenernya aku bukan orang yang lipstick junky sih. Kemana-mana aja jarang pake lipstik, paling kalo lagi ada acara, itu pun kalo tebel dikit langsung kesurupan.

Tapi pas dihitung-hitung, ternyata lipstik gue banyak juga ya :/

1. Dear Darling Water Gel Tint
Kaya namanya. Ini jel. Tiap kali mau make harus disapu-sapuin dulu supaya gak kebanyakan jelnya. Aku sapuin bener-bener, sampe udah kering baru kupake, supaya gak merah banget n tebel banget.

Biasanya aku swatch dua-tiga kali sih (dengan jel sesedikit itu).


Btw mungkin kalian bingung, kenapa hasilnya warnanya gak seterang yang seharusnya ya? Iya soalnya aku kalo make ini suka nge-capin bibir dulu ke tangan, supaya warnanya gak tebel.


Different photo with different lighting, keliatannya kaya merah ya, ngga pink. Tapi ini nih kalo utk hasil yang tebel



Menurutku sih, kalo mau bibirnya keliatan kaya berwarna tapi natural mending pake liptint. Kalo pinter make nya, warnanya bakal tipis gitu lho, seolah kayak ini warna dari bibir. Apalagi pink ini, suka banget, pink yang hint merah gelap gitu.

Foto satu ini, aku iseng ngebersihin lipstiknya pake pembersih mustika ratu, ternyata gak hilang wkwk. Padahal di lipstik2 lain hilang lho.

Ini lipstik paling favorit gue, gue paling sering make ini. Longlast? Iya kayak hubunganku :P Juga ringan banget dipake kayak gak make apa-apa.

Sukak <3

2. Purbasari Lipstick Color Matte
Ini lipstik sejuta umat, semua orang punya ini. Harganya murah meriah, formulanya ringan. Saya pun ga nyangka merek ini yang notabenenya gak punya reputasi bagus-bagus amat tentang make up, ternyata hasilnya bagus banget. Well banyak yang mengira sama kayak saya, gak nyangka hasilnya bakal sebagus ini, matte banget, dan gak bikin garis-garis halus di bibir keliatan banget (kaya wardah matte lip cream)

Tapi diameternya terlalu kecil, jadi kalo make mesti dua-tiga kali swatch, tapi rapih sih.





Kalo foto yang pake jilbab merah ga keliatan ya, haha. Sorry for the bad lighting, tapi foto jilbab hitam jelas kan ya? See, natural, sukaaakk.

Warna ini juga warna paling favorit kayaknya, hampir semua orang punya purbasari yang warna ini. Warnanya bikin kita lebih dewasa gitu ASIKK, cocok buat berbagai occasion dan gaada kesan centil gitu kan.

Long last? Ya namanya kalo lipstik, memang gampang hilang, cuy. Kalo habis makan udah pasti hilang itu warna haha.

3. Pixy Lip Cream no.1 Chic Rose
Alhamdulillah lip cream ini gak bikin kulit bibir ngelupas kayak LT Pro (yang mehong ituu), bahkan lebih creamy daripada LT Pro. Murrraaahhhh cuyy. Sayang, warnanya terlalu sedikit, padahal sukak banget :(


Gatau kenapa di foto ini kok warnanya gak keliatan ya :( padahal aslinya lebih kereng kok. Nih foto lain aku make lip cream ini.

Maafkan muka ini wkwk, candid by bokap ceritanya.

Suka banget sama warna ini, dari dulu udah nyari warna pink hint ungu gelap, persis gini. Cuma ya gitu, walau pun warna bibir, ini gak bisa dipake daily. Warnanya cuma cocok kalo occasion yang menor, atau dandannya yang heboh. Dan warnanya intens sekali bro, kalo make mesti tipis-tipis supaya gak terlalu kereng.

Longlast? Lumayan, seharian masih ada. Tapi kalo makan, inner bibir hilang gitu, dan di outernya kayak udah antara ada dan tiada wkwk.

Semoga seri lipcream ini punya lebih banyak warna ya!

4. Eternally SM Lip Color no.57
Penasaran sama merknya yang gak pernah saya denger, coba-coba lah saya. Dan kebetulan nemu warna yang udah lama saya cari, peach gitu. Gatau formulanya yang berat atau memang dia di 'desain' kaya lip balm. Warnanya juga tebel banget *nulisnya sambil nyesal*, jadi ngaplikasiinnya cuma notol-notol trus diratain pake jari, itu pun kayak udah tebel banget huhu. Jadi biar lebih rapih aku tepuk-tepukin pake tisu sih.




Apakah long last? Sebagai lipstik lumayan sih, longlast nya kayak make lipbalm (apa karna ini dia terasa berat?), habis makan warna nya masih ada, walau antara ada dan tiada.

Be te we kemasannya menarik lho, kayak lipstik mainan, lipstik barbie gitu lho.


5.  Maybelline Baby Lips Candy Wow yang Blackberry
Iya tau, ini lip balm bukan lipstik, tapi warnanya intens banget kayak make lipglos. Biasanya aku make ini kalo cuma ke kos temen, makan di luar kos tapi masih di telkom (naon?), atau cuma belajar di kantin, ya ngerti lah ya. Kalo ke kampus sih aku gak make ini, kenapa? Terlalu glossy, men. Biasanya ke kampus aku cuma pake lipbalm maybelline yang pendek itu.




Lip balm yang panjang atau yang pendek sebenernya sama-sama bagus banget dalam melembabkan bibir, bedanya kalo yang panjang ini warnanya lebih intens dan lebih glossy. Aku sengaja milih warnanya yang gelap, soalnya waktu lagi beli buy 2 get 1 free, yang merah (cherry) gak ada *nangis bombay*. Kayaknya aku bakal beli yang cherry deh next time.

Longlast? Iya namanya juga lipbalm, dipake agak terasa berat, tapi ya gitu, yang terasa berat justru biasanya longlast. Iya, pengalaman soalnya. *Huehe*



Setelah dikena-kenain air, wkwk



Okelahhh itu dia review lipstik yang paling sering gue pake. Sebenernya ada enam sih, tapi yang satu lagi ketinggalan di Bandung (nulis ini skrg di Batam), mungkin bakalan di review di postingan review lipstik lainnya.

Makasih, semoga bermanfaat dan sampai jumpa cantiquue :*


Thursday, July 6, 2017

About Chasing Number // Menikmati Proses

About chasing number. Mungkin betul, indikator atau penilaian sesuatu itu dilihat dari angka. Tapi sebenarnya, apa yang lebih penting. Angka nya, atau proses mendapatkan angka tersebut?

Kalau kita bicara angka, misalnya ngejar nilai bagus gimana pun caranya, kita mungkin bakal ngelakuin semua hal, dan jadi butani. Kita bisa jadi nyontek, trus gak mau belajar sama temen, kalo udah ngerti gak mau ngajarin temen dan gak mau ngebagi ilmu, atau bahkan, hubungan pertemanan bisa rusak cuma gara-gara tubes.

Padahal, sekolah atau kuliah itu berarti menimba ilmu, dan esensi nya yaitu, struggling, sacrificing, togetherness, finding self, dan masih banyak lainnya. Kalau kita terlalu sibuk mengejar angka, ibarat itu cuma formalitas, cuma penanda.

Misalnya lagi, ada organisasi yang punya 5 proker, dan mereka mengejar angka. Jatuhnya ntar, asal prokernya udah terlaksana weh. Evaluasi tentang apakah it went well or didn't bisa jadi hal belakangan, asal udah terlaksana weh.

Saya selalu menargetkan diri saya akan suatu hal. Misalnya dalam setahun harus mengkhatamkan 20 judul buku. Ntah itu buku tebal atau tipis, ntah itu bacaan berat atau ringan. Jadinya, saya meninggalkan my current reading itu The Clash of Kings (karena tebel banget, terus hurufnya kecil-kecil dan banyak kata dalam satu halaman itu melebihi buku-buku biasa) dan membaca buku lain. Di sisi lain saya juga menargetkan diri untuk membaca majalah dan beberapa situs setiap hari. Ditambah kerjaan kuliah dan organisasi. Saya jadi keteteran dan ujung-ujungnya, tahun ini hanya ada beberapa buku yang berhasil saya khatamkan.

Seandainya saya mengkhatamkan 10 buku ringan dan tipis, apakah nilainya sama dengan 3 buku berat dan tebal? Atau bahkan 10 buku tadi tidak ada apa-apanya sama sekali? Saya gak tau.

Angka itu gaada yang mutlak, teman. Misalnya A yang belajar tentang bab 1, dan temannya, B, belajar bab 2. Dan ternyata yang keluar di ujian itu tentang bab 1. Apakah berarti B bodoh, karena tidak bisa menjawab soal di ujian tersebut?

Misalnya, pelajaran Bahasa Indonesia adalah mata kuliah yang dianggap paling mudah bagi kebanyakan murid, they're supposed to get high mark. Tapi guru Bahasa Indonesia di kelas A itu peliiit na'udzubillah ngasih nilai, dan di kelas B gurunya subhanallah baik banget. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia di kelas A jelek-jelek, dan di kelas B bagus-bagus. Berarti apakah murid-murid kelas A lebih bodoh?

Mungkin selama ini kita masih terbawa kebiasaan kita selama ini. Lebih mementingkan penampilan daripada isi. Lebih dulu menilai apa yang nampak, dibanding menghargai apa yang gak nampak.

Padahal.

Chasing number is about mengenal esensinya. Menikmati proses. Mencari pengalaman. Proses lah yang akan kita bawa kemana-mana. Proses lah yang membentuk karakter kita.

Capek woy kalo kita ngejer angka terus. Buat apa? Ujung-ujungnya kita akan meninggal. Kita tidak membawa angka itu sampai mati. Tapi proses dari mengejar angka itu lah yang membuat kita lebih be human dan gak meninggal sia-sia.

Ya sudah kalau udah begadangan belajar tapi nilai tetep jelek. Ya sudah kalau mati-matian demi dosen tapi ternyata dia emang dasarnya pelit nilai. Ya sudah kalau gak bisa mencapai target. Bukan kah sudah ada Allah yang mengatur segala-galanya dan mencukupi kita? Bukan kah pada akhirnya yang bisa manusia lakukan hanya ikhtiar dan tawakkal, dan hasilnya ada di tangan Allah?

Bukan kah jauh lebih baik kalau organisasi hanya punya 2-3 proker tapi itu W O W, daripada punya 10 yang asal kekerja weh?

Pada akhirnya, saya memilih menikmati buku bacaan saya, selow. Daripada baca buku ngebut-ngebut, asal ngerti weh, asal cepet selesai bacanya. Ketika saya terlalu mempush diri saya buat melakukan sekian banyak hal, pada akhirnya saya gak menikmati. Dan gak dapat esensinya.

So... Kesimpulannya...

Gaada angka yang mutlak. Berusaha lah mati-matian dan sekuat tenaga, seolah hasilnya terlihat jelas dan nyata di depan mata. Tapi jangan lupa pada akhirnya Allah lah yang menentukan hasil. Pada akhirnya, kita hanya perlu berproses dan mengenal esensinya.

Saya cinta kalian karena Allah. Tetap semangat!