Thursday, April 30, 2015

Cintaku Terhalang Pulsa



 “Jadi lebaran kamu gak pulang kampong ke keluargamu?” Tanya Devi lembut. Dia sedang telponan dengan pacarnya yang bekerja di luar kota, Ageng.
“Ya gimanalah yank, buat makan aja masih mesti hemat-hemat, apalagi beli tiket pulang kampung”.
Devi saat itu sedang berada di kampung halamannya sendiri di Jakarta, sedang Ageng masih di Batam. “Hmmmph, tidak terasa ini lebaran kedua bagi kita ya?” lanjut Ageng, menghela nafas. Devi hanya nyengir, kemudian hendak lanjut bicara “Eh, yank, sepupuku yang bayi itu lucu banget tau, aku…..”
Tut tut tut tut… Tiba-tiba telepon mati, habis pulsa.
Devi hanyalah seorang siswi SMA yang jajannya dibatasi supaya tidak boros, jadi dia tidak punya pulsa banyak untuk menelpon balik. “Arrrgghhh…!”. Kesal, kenapa sih lagi asyik ngobrol tiba-tiba mati??? Dia menggigit jarinya, mengepalkan tangan gemas.
Ini adalah lebaran kedua bagi mereka, sudah 2 tahun berpacaran dan sekarang LDR.
Sayangnya…
“Yank! Kok baru nelpon?” Devi kesal, kesal sangat. Dia sudah menunggu telepon dari Ageng sejam.
“Maafin aku, yank… Daganganku hari ini kurang laku, jadi belum ada pemasukan untuk beli pulsa…” Ageng memelas. Ya, dia adalah seorang perantau yang kurang mampu sedang membangun nasib. Mungkin memang tidak pantas dia memacari seorang gadis SMA.
Tapi kawan, itulah cinta.
“Pakai saja uang tabunganmu dulu buat beli pulsa, bisa kan?”
Ageng kembali memelas. “Aku baru membayar uang kost, yank…”
Devi menggeram sendiri.
“Maafkan aku, Devi. Aku hanya seorang perantau… Kau tau itu”
Dan… setengah jam kemudian –yang dipenuhi omelan Devi- telepon kembali putus.
Paket telepon? Ageng sudah bergonta-ganti kartu, memakai semua poin, memasang paket apapun itu namanya. Tetap saja, bukan gratis 24 jam setiap hari, atau syarat-syaratnya yang aneh dan ribet.
Akhirnya Ageng menelpon Devi siang hari minggu. Bagi Devi, hari libur adalah hari dimana dia bisa puas ‘bersama’ dengan Ageng. Tapi alasannya masih klise.
Devi marah, sangat marah.  “Setiap hari telepon hanya 3 jam sehari dan hari liburku pun kau tetap tidak bisa telpon lama??? Kemana saja kau tadi pagi?” Devi hampir berteriak -Kalau saja tidak ada ibunya di rumah, dia pasti sudah teriak. Kau tau lah teman, Backstreet. Mana ada orangtua kaya mau anak gadisnya yang masih rok abu-abu pacaran dengan laki-laki yang membangun hidup?-.
“Devi sayang, kau mengigau sepanjang malam. Aku baru bisa tidur tadi subuh setelah kau tidur nyenyak…”
“Kan aku bilang tidak usah telepon malam, jadinya gini kan, paginya pas aku bangun kau tak menelponku?! Ya kan???” Devi membentak.
“Aku bahkan belum sempat belanja untuk kebutuhan dagang, Devi. Uang pulsa ini sebenarnya uang belanja…”
Alis Devi melipat keras, bibirnya terkatup rapat, geram sekali.
Ageng menghembuskan nafas. “Pulsa ini tidak seberapa, kau mau marah sepanjang telepon atau bagimana?”. Devi diam, dia ngambek.
“Aku capek sekali kau marahi terus, Devi…”
Devi semakin mengerut.
“Jujur kadang aku malas menelponmu karena tidak mau kamu marah… Kamu tau aku bekerja siang malam, hanya tidur beberapa jam, makan sekali sehari. Kamu tau aku capek, tapi masih marah”
Devi diam, tidak berkomentar apa-apa. Tapi kesalnya mulai turun saat mendengarnya.
“Aku capek memikirkan pengeluaranku yang tidak seimbang dengan penghasilanku, kamu tau aku Cuma seorang pedagang… Kau sudah memutuskan untuk mencintaiku, Dev. Kau harus sabar, kamu tau kan, aku selalu mengusahakan untuk beli pulsa? Aku juga rindu kamu, Devi”
Dan seperti biasa, pertengkaran diakhiri dengan saling memaafkan dan mengalah, apalagi Ageng yang selalu mengalah. Devi masih kecil…
“Maafkan aku, Ageng. L “ Devi menyesal. “Aku akan berusaha lagi mengertimu dan menahan marah”
“Kau selalu marah, Dev”
“Tidak akan lagi, aku janji”
Setengah jam, telepon mati. Devi menghela nafas… Dia merasa seperti di novel the time traveller’s wife, yang suaminya sewaktu-waktu dapat hilang, sang istri pun sudah siap jika suaminya itu tiba-tiba hilang. Begitu juga Devi.
Tapi tetap saja rasanya berat.
***
“Malam, sayang. Sudah mau tidur?” sapa Ageng. Devi sudah menunggu telepon Ageng sejak pagi. Devi tidak menjawab, sebenarnya sangat marah. Saking marahnya, dia hanya bisa menangis.
“… Devi…” suara Ageng. Devi terisak, dia bertanya-tanya dalam hati, Sampai kapan kita akan begini terus? Ageng seperti mendengar suara hatinya. “Yang sabar…”. Ageng tidak banyak berkata, dia selalu sedih saat Devi sedih. Ageng berandai-andai, kalau aku di sisimu sekarang pasti akan kupeluk, ku elus-elus dan kuusap air matanya. Tapi ini hanya via suara.
Devi akhirnya bicara, “Aku merindukanmu selalu, Geng”. Ageng menunduk, walau Devi tidak melihatnya. “Aku hanya ingin kita bicara terus…” Devi mengucapkan kalimatnya sepatah-sepatah. “Aku lelah menunggumu terus”. “Kalau begitu jangan tunggu!” Ageng menjawab setengah kesal, kalau tidak mau menunggu ya jangan tunggu? Tapi dia tau bahwa, “Kau tau aku selalu menunggumu, tidak bisa tidak…”
Biasanya laki-laki normal akan merasa kesal dan tidak sabaran kalau punya pasangan yang menuntut di telepon terus, pasangan yang mengeluh telah lama menunggu telepon padahal dia bisa melakukan hal lain untuk tidak menunggu. Tapi Devi adalah wanita beruntung. Memiliki kekasih yang sabar dan pengertian, tentu karena Ageng mencintai Devi tidak seperti laki-laki kebanyakan.
“Aku bukan anak orang kaya yang bisa kapan saja minta pulsa, Devi”
“Maaf, Ageng, aku selalu tidak bisa menahan marah dan kesal tiap kau telat nelpon. Bodoh, padahal aku tau kau bukan seperti itu…”
“Ssshh…” Ageng memotong kalimat Devi. “Walau aku bosan dan capek kau marahi, tapi sebenarnya aku terharu. Deviku setia menungguku, tidak banyak wanita yang terus-terusan rindu pasangannya”
Devi semakin menangis.
“Kamu masih terlalu muda untuk menghabiskan waktumu menungguku, Devi.”
Devi menyeka air matanya.
“Bersabarlah, cinta…”
Devi diam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Jangan hubungi aku lagi, Geng”.
Ageng terkejut.
“Menghubungiku hanya membuatku terus berharap kau akan terus menelpon. Menghubungiku hanya membuatku terus menunggu telepon selanjutnya”
“Yank…” Ageng tidak mampu berkata-kata.
“Jangan telepon aku lagi kecuali saat tidur, Geng”. Devi menggigit bibir, mengusap air matanya.
“Aku akan mencoba tidur tanpa nina bobomu. Aku akan melakukan hal lain supaya tidak ingat kamu” kata Devi.
“Tapi aku tidak bisa tidur sebelum mendengar nafasmu”
“Cobalah” Devi terisak
“Nggak… Nggak gini, yank. Jangan gini… Aku akan terus mencari uang untuk nelpon darimana pun itu”
“You’ve done that, Geng”
“Jangan gitulah, Yank. Aku sudah berusaha! Kau tau, tengah malam aku sering keliling perumahan untuk cari counter pulsa walaupun masih ngutang. Aku sering menelpon temanku tengah malam, mengganggu tidurnya, untuk beli pulsa. Untuk bicara denganmu! Jangan begitu!”
Devi menangis. “Bersabarlah, sayang… Ya?” Ageng berusaha menenangkan.
***
Hari berganti hari, mereka masih saling mencintai dan saling sangat merindukan. Devi, belajar untuk sabar. Ya, dalam mencintai memang harus sabar.
“Hahaha, ibu kita sama menyebalkan” Devi dan Ageng sedang bercerita tentang orangtua masing-masing. “Ibumu lebih aneh, macam nenek lampir, aku aja---“.
TUUUT…. Suara Ageng tiba-tiba terhenti. Habis pulsa lagi.
Devi menghela nafas. Tersenyum, men-charge handphone nya dan membaca buku pelajaran.
Devi sejak dulu sebenarnya sudah sepenuhnya paham, bahwa Ageng hanyalah laki-laki sederhana yang sedang membangun masa depan. Yah, memang harus mengorbankan sedikit urusan percintaannya. Devi sudah tau itu, hanya egonya yang tidak terkendali. Dan Ageng adalah lelaki penyabar dan dewasa, dan dengan kesabarannya itu dia berhasil membangun rasa sabar dalam cinta Devi

Bayangan di Balik Cahaya

“Aku sudah sangat sekarat…” kata Ibu lemah sekali di tempat tidurnya. Dia bahkan tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya sejak beberapa hari terakhir. Adi melihat Ibu ngeri, matanya berkaca-kaca. “Simpan uangmu untuk membuka usaha toko saja, atau buat sekolah Ageng” kata Ibu lirih. Adi berlutut, menggenggam tangan Ibu, memeluknya dan mencium keningnya, lantas langsung pergi meninggalkan ruangan.

Adi pergi ke kamarnya. Matanya menyapu seluruh ruangan. Kemudian membuka pintu lemari baju, siapa tau ada perhiasan atau sebagainya. Perhiasan ibu? Sudah tinggal cincin dan kalung peninggalan orangtuanya, selainnya sudah di jual untuk pengobatan Ibu. Hanya tinggal jam tangan murahan. Diambilnya sembarang. Tidak ada lagi yang bisa dijual.
Adi melewati Bapak yang berteriak memanggilnya. “Kau mau kemana?!” Bapak dengan mata sambab dan wajah lelahnya bertanya. Adi tidak menghiraukan, langsung pergi keluar rumah. “Adi!!!” Bapak berteriak lagi mencegahnya, tapi tidak berdaya.

Adi pergi menuju sebuah toko jam bekas, hendak menjual jam bututnya. “Masih mulus, koh” kata Adi. Kakek tua penjual jam itu mengerut, “Apanya yang mulus? Kau dan aku tau jam ini bahkan jauh dari layak”.  Adi menggaruk kepalanya, “Berapa saja lah Pak… Ibu saya sedang sakit parah, kami tidak punya uang sama sekali" Adi memelas. Kakek tersebut memandang Adi kasihan, “begitu juga aku, nak. Bertahun-tahun jualan jam bekas tidak menguntungkan apa-apa. Aku sungguh perihatin”. Kata kakek tersebut mengembalikan jam itu. Benar saja, jamnya bahkan sudah pecah, bodinya beret-beret, rusak parah.

Adi marah. Spontan menampar Kakek tersebut dengan jam logamnya itu, dan berjalan cepat meninggalkannya. Si kakek tidak menyangka, kaget, tidak sanggup berkata apa-apa. Giginya bahkan langsung goyang dan menimbulkan luka di rahangnya. Kakek sangat kaget tiba-tiba ditampar dengan jam logam.

Tapi ada hal yang membuat kakek merasa takut. Dia merasa tidak dapat mempercayai cerita Adi, dan ketika melihat mata Adi, dia seperti melihat… Penjahat. Mungkin karena dia sibuk mencari biaya, jadi dia memaksa siapa saja untuk itu, pikir Kakek. Bulu kuduknya berdiri, mengerikan sekali melihat wajah Adi itu.

Adi berjalan ke hampir semua toko. Hitungan 1… 2… 3… Semua pemilik toko mengatakan tidak ada lowongan. Adi marah. “Ibu saya sekarat! Saya butuh uang untuk pengobatannya!!”. Beragam jawaban, biasanya mereka menyarankan untuk meminta jaminan kesehatan dari pemerintah. Adi biasanya meneriaki orang-orang tersebut “Ah, setan!” lalu bergegas keluar toko dan pergi ke toko-toko lainnya untuk mencari pekerjaan.

Bayangan Ibu yang hamil tua tidak berdaya, hanya terbaring dengan kasurnya yang berlumuran darah terus ‘berputar’ di pikiran Adi, seperti roll film yang berkali-kali diputar ulang.
Panas terik tidak membuatnya gentar. Terus saja dia memohon pekerjaan apa saja, gaji berapa saja, dan berteriak “Setan!” ke orang yang menolaknya. Adi lelah, beristirahat di pinggir jalan sambil menyeka keringat. Dia hanya bisa melototi orang yang makan enak di dekatnya.

Terus begitu, sampai menjelang malam. Adi berpikir mungkin Ibunya belum makan, atau kalaupun sudah, pasti Bapak yang belum. Tapi tidak ada selembaran apapun di sakunya. Adi menelan ludah. Matanya menyapu seluruh jalan. Dan menemukan sebuah rumah makan nasi padang. Dia ingat ayahnya suka sekali nasi padang. Dia pun menghampiri Rumah Makan tersebut dan memesan dengan porsi yang banyak.
“Ini mas” kata pelayan sambil memberi bungkusan tersebut.
Adi mengambilnya, dan langsung berlari sekencang-kencang dari Rumah Makan tersebut. Tapi larinya masih kalah kebut, dia tertangkap massa. Dipukuli, ditendang, diludahi, bahkan dikencingi.

“Ampun! Ibu saya sakit parah, saya tidak punya uang, dia belum makan!!!” Adi berteriak, tapi nyaris tidak terdengar, mereka sibuk menghajarnya sampai petugas keamanan setempat memberhentikan.

“Kenapa kau mencuri, nak?” Tanya seorang petugas saat Adi ditahan di kantor polisi terdekat. Atau lebih tepatnya, diselamatkan. Adi babak belur, menjawab sambil meringis “Ayah saya sakit parah, pak. Dia juga belum makan, dan saya tidak punya uang”. Polisi tersebut hanya ber-oh, tidak terlihat simpati. “Kau masih untung kuselamatkan tadi, kalau tidak kau mungkin sudah menyusul ayahmu di Rumah Sakit” kata polisi santai. “Saya tidak punya uang, pak. Uang kami habis untuk pengobatan. Mana bisa dibawa ke Rumah Sakit” mata Adi berkaca-kaca, menunduk. Polisi tersebut menghembuskan nafas.

“Tapi bukan cuma kau yang punya nasib buruk, Nak”. Adi mengangkat kepala, memandang polisi itu. “Jam berapa sekarang? 8 malam, bahkan jam segini aku belum makan juga” lanjutnya. “Seperti yang tadi aku bilang, kau beruntung kuselamatkan tadi. Sekarang resminya aku sedang menahanmu, butuh uang lho untuk tebusan supaya bebas. Tapi karena kasihan dengar ceritamu, aku mau makan malam saja lah” kata polisi tersebut santai, memandang ke arah lain.

Mata Adi melotot, dengan cepat hendak meninju polisi itu. “Persetan kau, bodoh! Polisi tolol, kau mau minta uang dengan pencuri sepertiku? Yang punya Ibu hampir mati di rumah sakit dan tidak punya uang sepeser pun untuk pengobatan?!” Adi berteriak sekencang-kencangnya, dan membanting beberapa barang di meja polisi itu. Semua petugas langsung melihat ke arahnya. “EH-EH, apa-apaan kau? Aku hanya bicara soal tebusan” polisi gendut itu agak panik.

“Sumpah demi Tuhan kau diam!!!” hampir Adi memukul kepala polisi itu tapi dengan cepat di haling polisi lain. “Lebih baik aku tadi digebuki! Kau setan, bisanya memerasku?! Ibuku sedang sekarat!!!” Adi berteriak berusaha melepas tubuhnya, dan setengah menangis saat bicara ayahnya yang sekarat.
Adi terus meraung-raung dan menggeliat. Salah seorang petinggi polisi di kantor tersebut kemudian datang. “Hei hei sudah, lepaskan dia”.

Polisi yang menahannya saling berpandangan. “Lepaskan saja”. Mereka pun melepasnya. Adi langsung terduduk sambil menangis meraung. Petinggi tersebut duduk berhadapan dengan Adi. “Cepat pulang sana, jangan berbuat ulah lagi” katanya. Adi memandangi polisi tersebut dengan matanya yang berurai air mata. “Cepatlah, sebelum kami minta tebusan bebasmu”.

Adi langsung berlari keluar dari kantor tersebut dan pulang.

Di perjalanan pulang, Adi melihat seorang gadis berjalan sendirian. Adi melirik tasnya, pasti ada uangnya, ucapnya dalam hati. Saat itu dia hanya memikirkan bagaimana mengumpulkan uang untuk pengobatan Ibunya. Apapun caranya. Halal? Haram? Membiarkan Ibunya tergeletak sakit di ranjang adalah dosa juga bagi Tuhan, pikirnya.

Adi berjalan mendekati gadis itu dari belakang, menarik tasnya dan langsung berlari sekencang-kencangnya, sementara gadis itu berteriak tanpa bisa mengejarnya, dan tidak ada yang mendengar jeritannya. Adi pun bersembunyi. Dilihat isi dompet itu, dan menyumpah serapah. Isinya hanya beberapa kartu kredit dan 2 lembar uang Rp 20.000.
Adi membanting dompet itu, memeluk lutut, menangis.

Terkutuk!!!

Adi kemudian melihat sebuah mobil yang berhenti di jalan yang lengang itu. Adi melihat seorang pria berjas yang sedang telponan dengan gadget mewahnya, pasti orang kaya, pikirnya. Adi memeriksa sekeliling, dan perlahan pura-pura berjalan melewati mobil itu. Orang berjas itu sibuk menelpon. Adi juga melihat sepertinya pintu mobil tidak dikunci.

Adi langsung membuka pintu mobil tersebut, mengepalkan tinju. “Beri aku semua yang kau punya!” mata Adi merah padam, air mukanya dipenuhi ekspresi marah, sedih, dan… Menyesal. Begitu yang dilihat pria berjas itu. “CEPAT!!!” Adi membentak, memukul kepala pria itu. Korban tersebut langsung mengeluarkan barang-barang yang dia punya, dan… Dia langsung menyemprot Adi dengan Semprotan Anti Nyamuk. Adi berteriak histeris, matanya seperti terbakar, dan pria tadi langsung kabur dengan mobilnya.

Warga yang mendengar teriakan Adi langsung membawa Adi ke Rumah Sakit terdekat.
Keesokannya, mata Adi perih sekali saat ia mulai sadar. Bapak dan Ageng ternyata sudah berada di sampingnya, Bapak mengusap air matanya. “Apa saja yang kau lakukan kemarin, Adi?” kata Bapak lirih. Adi bertanya, “Ibu, ibu bagaimana??”. Bapak menghela napas panjang, menangis. “Mana Ibu?” Adi bertanya lagi.

“Ibu sudah meninggal, kak Adi” Ageng yang bicara. Adi merasa seperti disiram sedrum air es ke kepala, sambil hatinya terasa ditusuk. Adi tidak percaya. “Ka-kapan?”.
Bapak semakin menangis. Ageng menjawab pertanyaan kakaknya, “beberapa hari lalu, Kak”. Mata Adi terasa semakin perih, amat perih karena air mata.
Bapak menangis tersedu-sedu. Adi terdiam, dan Ageng berkata pada kakaknya dengan polos, “karena motor Bapak rusak, jadi Ageng dan Bapak kemari dengan kendaraan umum”. Adi seperti hilang pikirannya, dia bingung.
“Rusak?”
“Iya, rusak” jawab Ageng. Ageng lalu melihat jam tangan logam Adi yang sudah rusak itu di meja samping ranjang Adi. “Kak, jam kakak yang mahal itu kok rusak?” Tanya Ageng.
Adi terdiam.

***

“Adi pinjam motornya, Pak!” Adi sudah bersiap-siap dengan motornya. Bapak langsung loncat dari kursi malasnya, “Eeeeh jangan, kamu kan belum bisa betul!”. “Gakpapa, mau coba-coba aja. Daaah Bapak, nanti Adi belikan nasi padang ya!” Adi sudah melajukan motornya. Bapak yang dibelakang berteriak jangan, firasatnya sangat tidak enak.

Adi mengebut, dan remnya blong. Adi panik, mengklakson keras-keras, mengarah kemana saja yang aman. “AAAHHH!!!” teriakan ibu-ibu terdengar sangat keras. Adi baru saja menabrak seorang wanita hamil. Adi shock, langsung kabur secepatnya. Sesampai di rumah, Bapak mendapati Adi luka-luka, dan jamnya rusak parah akibat kecelakaan tadi. Tiba-tiba telepon rumah berdering.

Bapak mengangkatnya, dan hampir jatuh pingsan mendengar kabar di telepon itu. Bergegas dia langsung minta diantar tetangganya ke Rumah Sakit.

                                                                        ***

“Ibuk!” Bapak menangis, memeluk Ibu. Ibu yang sedang hamil tua tertabrak sepeda motor yang remnya blong, dan pengemudinya langsung kabur, begitu keterangan dari saksi mata. Ibu pun meninggal dunia beberapa saat setelah dilarikan ke Rumah Sakit, begitu juga bayi yang dikandungnya. Ia meninggal akibat pendarahan hebat.

                                                                         ***
Adi shock.

“Ageng, tolong belikan ayah es krim di minimarket sini ya” pinta Bapak, Ageng yang penurut pun pergi. Bapak kemudian mengusap air matanya dan berkata pada Adi. “Apa yang kau lakukan, Nak?” Adi masih shock berat. “Kau berhalusinasi? Kau berpura-pura lupa bahwa Ibumu telah meninggal?”Adi masih diam. Adi menggeleng pelan, pikirannya melayang. Dia teringat saat-saat terakhir Ibu, Ibu memandang Adi dan memanggilnya. Tapi, waktunitu Adi terlalu takut. Dia pergi, saat ibunya sekarat.

“Apa kau pura-pura lupa kau lah yang telah membunuh ibumu?” Bapak bertanya tajam.
“Tidak… Bukan aku…” Adi berkata pelan.
Bapak emosi, menarik baju Adi. “Apa yang kau lakukan??? Rem motor yang kamu pakai itu blong, dan kamu menabrak seorang ibu hamil sampai pendarahan, Adi. Dan sekarang sudah meninggal bersama anak dikandungannya. AAdi, wanita yang kau tabrak itu ibumu..." Bapak menangis.

Adi kaget, tidak percaya. "Pak, ibu lagi sakit..."

"Adi, kenapa? Kau terus meracau, membual ibu sedang sakit, butuh uang, butuh uang! Kau membuat skenario seolah ibu sedang pendarahan, tidak punya uang lagi untuk pengobatannya, supaya kau lupa kau lah yang membunuhnya!” Adi terdiam. Bapak mengelus kepala Adi sambil menangis “Adi… Adi anakku yang malang… Ibunya yang malang….”

Adi diam. Berteriak, dan meronta-ronta di tempat tidurnya. “ITU KECELAKAAN MURNI!!!”

Ayahku Dan Secangkir Tehnya


“Ayah pulang!!” teriak Adi kecil sambil berlari menuju ayahnya di depan rumah. “Ayah pulang!!” Adi masih berteriak saat dipeluk ayahnya yang baru pulang dari Bali. Ayah tertawa melihat tingkah anaknya, “aku juga merindukanmu…”. Ibu hanya tersenyum, dia lalu menyiapkan teh.

Mereka berkumpul di teras depan rumah. Duduk berdampingan dan Ayah memangku Adi. Sambil menyeruput teh mereka berbincang-bincang tentang perjalanan Ayah.
“Penduduk Bali sangat ramah. Pemandangan sangat indah, budaya lokal di sana juga masih sangat kaya. Suatu hari nanti, kau yang akan membawa orangtuamu ini pergi ke sana, Adi. Bekerjalah dengan giat supaya kau bisa mengumpulkan uang” kata ayah hangat menasehati. Adi yang polos menjawab “tapi ayah sudah punya banyak uang, yah. Buat apa aku bekerja kalau ayahku sudah kaya?”.
Ibu takzim mendengarkan. Ayah melanjutkan, ”Nak, seorang ayah yang baik adalah ayah yang berhasil mendidik anak-anaknya untuk menjadi anak yang mandiri. Uang yang ayah punya bukan supaya kau menjadi manja, tapi supaya kau tidak kesusahan dan melihat usaha ayah”. Adi masih kecil, hanya mengerti bahwa maksud ayahnya adalah harus bekerja giat supaya dapat uang banyak, dan dia kalau dia tidak ikut bekerja maka keluarga akan jatuh miskin.
Ayah menyeruput teh lagi dan melanjutkan.
“Dan Adi, untuk menjadi orang sukses itu pasti akan mendapati banyak cobaan dalam hidup. Termasuk kesedihan dan kehilangan. Yang harus kau lakukan adalah pantang menyerah, terus melakukan yang terbaik dan kau harus merelakan hal buruk yang terjadi”.
Ibu tersenyum, menggenggam tangan Ayah. 
Adi menyeruput teh miliknya, tapi genggamannya licin dan gelas terjatuh sampai pecah.
PRANG!
Ibu dengan sigap langsung memungut beling dan kepingan kaca. “Adi! Hati-hati! Kamu ceroboh sekali, sih!” kata Ibu. “Adi minta maaf, tidak sengaja…” katanya dengan menyesal. Ayah yang bijak kemudian berkata, “Nak. Sini ayah beritahu. Kau mungkin punya teman, sahabat, atau pacar nantinya. Mereka adalah orang-orang yang akan menemanimu, tapi hanya sementara, percaya lah. Sedangkan orangtua, adalah keluarga dan mempunyai ikatan darah. Ingatlah, selamanya keluarga akan terus menjadi milkmu dan kau milik mereka,saling mengisi. Karena nya sesalah apapun kamu, orangtua akan selalu memaafkan. Kau hanya perlu terus mengerjakan yang terbaik, Adi. Paham?”. Ayah kemudian mengelapi ingus dan tangisan Adi. Ibu yang tadi memungut sampah langsung terdiam melihat Ayah, kemudian tersenyum dan menyeka sudut matanya.
                                                                        ***
Adi tumbuh dewasa, tapi dia tetap seperti anak yang sangat senang menghabiskan waktu bersama ayahnya. Ayah yang keren! Mereka masih sering nge-teh, dan ayah biasa memberi wejangan pada Adi saat nge-teh.
Sampai tiba saatnya. Saat seorang anak akhirnya meninggalkan rumah untuk mengejar mimpinya. Hari ini adalah hari yang sangat istimewa! Adi baru saja lulus kuliah!
“Hahaha… Anakku sudah jadi orang!” kata ayah sambil memeluk Adi, tubuhnya sudah lemah, wajahnya mengkerut dan rambutnya sudah memutih, begitu juga Ibu. Meski begitu, mereka terlihat begitu tampan dan cantik di hari ini. Sedang Adi, tumbuh menjadi anak yang kuat, sehat dan baik.
“Ayo kita rayakan bersama keluarga besar!” kata Ibu. “Aduh, mau ngapain bu?” kata Adi mengeluh, dia lelah setelah seharian berpelukan dengan teman-temannya. Ayah nyeletuk, “Kita nge-teh!”. Ibu memperingatkan, “baru saja semalam :/ Tapi ayolah”.
Suasana keluarga itu sangat bahagia dan penuh sukacita.
                                                                        ***
Adi kemudian mendapatkan pekerjaan di luar kota dengan prospek yang tinggi.
Adi dan orangtuanya sudah berada di bandara, bersiap melepas Adi untuk pergi. Andi memeluk kedua orangtuanya sambil menitikkan air mata, begitu juga ibu. Ayah tidak ingin menangis, hanya akan membuat anaknya semakin berat untuk pergi.
“Pak…” kata Adi sendu.
Ayah kemudian melihat wajah anak semata wayangnya tersebut. “Jangan lupa makan, jaga kesehatanmu juga. Jangan pantang menyerah, nak”. Kata Ayah akhirnya.
Adi tersenyum sedih, merangkul ayahnya kemudian masuk ke ruang tunggu sebelum ia akhirnya melambaikan tangan.
                                                                        ***
Sudah 4 tahun sejak kepergian Adi, dan mereka masih belum pernah bertemu. Adi hanya rutin menelpon orangtuanya. Dan ayah mulai sakit dengan tubuh tuanya.
“Adi, ayahmu…” Ayah langsung mengambil telepon dari Ibu, memotong omongan ibu.
“Nak, bagimana kau di sana?”Ayah bicara susah payah menahan batuk
“Syukurlah. Kau jangan pulang dulu sebelum membawa istri!” kata ayah becanda.

Yang di telpon protes.
“Tidak, pokoknya jangan pulang”
Ibu menangis melihat Ayah yang terus menutupi penyakitnya itu. “Sudah ya, ayah mau istirahat”.
Ayah langsung mematikan telepon. Yang ditelpon bingung, tapi memilih menganggap semua baik-baik saja.
Ibu juga protes, “kenapa yah? Sudah 3 tahun sejak dia pergi, tidak apa dia melihat keadaanmu? Kenapa kau keras kepala sih?”
Ayah, seolah tau sesuatu di masa depan. “Sakitku sudah parah, percuma membuang uang untuk mengobati. Lebih baik dia menabung untuk membangun rumah yang layak bagi keluarganya nanti. Seperti yang dulu kulakukan padamu”. Ibu menangis, tidak membalas apa-apa. “Tolong buatkan aku teh. Ayo nge-teh denganku” ajak ayah sambil batuk-batuk.
Sampai suatu hari, sakit ayah sangat parah. Seolah tau masa depan, dia berkata di pembaringannya, “Istriku, aku akan segera mati. Tolong kau panggilkan Adi kemari, aku ingin nge-teh dengannya sekali sebelum aku pergi”. Ibu menangis terisak, siapa yang tidak sedih saat teman hidup, kekasih, dan orang yang paling dicintai pamit untuk pergi selama-lamanya?
“Lupakan dengan semua pekerjaanmu itu, kau harus pulang sekarang!!”
“Kenapa, bu???” Adi mendesak
“Ayahmu sekarat, Adi!”
                                                                        ***
Ayah berbaring di Rumah Sakit, segera tertawa terharu melihat anaknya pulang. “Mana istrimu???".

“Ayaaahhh… Kenapa tidak bilang ayah sakit?” Adi memeluk ayahnya, tidak menanggapi gurauan.
“Ayo kita nge-teh?” kata ayah. Adi mengusap airmatanya.
Aroma teh menyeruak lembut di ruangan. Ayah menyeruput tehnya,”nikmat sekali… Akhirnya bisa nge-teh juga denganmu”. Adi tersenyum, menggenggam tangan ayahnya setelah meletakkan gelas teh ayah ke meja.
“Maafkan Adi tidak menjenguk ayah 3 tahun ini” kata Adi akhirnya
Ayah tersenyum, mengelus rambut Adi. Dia puas melihat anaknya sudah menjadi pria dewasa yang matang sekarang. “Orangtua selalu memaafkan anaknya, karena keluarga itu abadi, Nak… Peluk orang tua ini?”.
Tangisan Ibu langsung pecah, hati Adi terasa sangat berat. “Jaga ibumu baik-baik, ya. Segera lah punya anak supaya ibumu tidak kesepian. Ayah sayang kalian”.
Ayah pun meninggal dunia dengan tenang dalam pelukan keluarganya.
                                                                        ***
“Hei, Mas Adi, sudah selesai?” sapa Bram, salah seorang staf Adi.
“Sebentar lagi nih, Bram”
“Nge-teh yuk?”
“Duh, ngopi saja ya?”
“Iya deh, kali ini kutraktir”.
Pelayan pun mengantarkan kopi pesanan mereka.
“Jadi bagaimana pernikahanmu nanti, Adi?” Bram membuka pembicaraan.
“Hanya sederhana, Bram”.
Tiba-tiba Adi mencium aroma teh susu, ternyata seorang pelayan mengantarkan teh di belakangnya.
“AH!!” Adi tiba-tiba emosi, dan langsung berjalan cepat menjauhi aroma tersebut meninggalkan Bram.
Bram mengejarnya, “Kenapa Adi???”.
Adi terlihat marah. “Jangan lagi bawa aku ke sini, aku tidak mau menghirup aroma teh apapun itu!”
“Kenapa?”
Mereka kemudian duduk di depan kantor.
“Aku memiliki kenangan yang indah dengan ayahku, Bram. Hampir semuanya ditemani teh sialan itu. Ayahku kemudian meninggal setelah pertemuan pertama kami. Sudah tiga tahun aku sibuk bekerja sampai tidak sempat pulang. Sejak ayahku meninggal, aku membenci teh itu… Aroma wanginya mengingatkanku bahwa aku telah meninggalkannya selama itu. Aku selalu menyesal, Bram” kenang Adi. Sahabatnya Bram hanya diam dan menepuk pundak Adi.
                                                                        ***
“Ibu!! Aku tidak mau ada acara nge-teh segala!” Adi marah saat Ibu mengusulkan acara minum teh bersama keluarga tunangan Adi. “Tapi, Adi…” omongan Ibu terpotong saat Adi membanting pintu kamarnya. Bahkan di rumahnya pun sudah tidak ada sebiji bungkus teh, kecuali diam-diam ketika Ibu merindukan Ayah.
Hari pernikahan pun tiba, Adi dan calon istrinya terlihat sangat tampan dan cantik, begitu juga keluarga mereka. Saat di ruang tata rias, Adi memandangi foto mendiang ayahnya. Adi tersenyum, menghela nafas panjang.
Dia kemudian membuka tutup dari cangkir, ternyata itu adalah teh sariwangi. Aromanya yang sangat memikat langsung terhirup Adi.
Tiba-tiba memori Adi akan ayahnya terputar di kepalanya seperti role film.
Cangkir itu tidak sengaja tersenggol jatuh dan pecah.
“…untuk menjadi orang sukses itu pasti akan mendapati banyak cobaan dalam hidup. Termasuk kesedihan dan kehilangan. Yang harus kau lakukan adalah pantang menyerah, terus melakukan yang terbaik dan kau harus merelakan hal buruk yang terjadi”
“Karena nya sesalah apapun kamu, orangtua akan selalu memaafkan. Kau hanya perlu terus mengerjakan yang terbaik, Adi. Paham?”.


Adi terdiam. Dia kemudian mengambil foto keluarganya dan memeluknya, sambil menangis.

                                                                        ***
Akad selesai dengan lancar. Adi memeluk ibunya dengan sayang. “Ayah pasti sangat bahagia melihat ini, Adi” kata Ibu dengan kacamata bacanya yang turun. Adi tersenyum,
“Ibu…”
“Ya?”
“Boleh minta buatkan teh?”
Ibu terkejut, menatap Adi tidak percaya.
“Aku rindu aromanya, bu, hehe” mata Adi berkaca-kaca
Ibu terharu, dan langsung memeluk Adi sambil menitikkan air mata.
“Aku menyesal tidak menemuinya dalam 3 tahun itu, Bu. Adi marah pada diri Adi sendiri. Adi lupa, bahwa dikatakan atau tidak, itu tetap cinta. Dan cinta akan selalu bersemayam pada keluarga… Adi lupa Ayah pernah berpesan bahwa kita harus ikhlas dan tetap melakukan yang terbaik” Adi memeluk Ibu sambil meneteskan air mata.
“Ayo semuanya, saatnya sesi foto bareng pengantin!”.
Saat Bram menyalami si manten, Adi berkata padanya sambil tertawa “Bram, ayo kita nge-teh ?”.
Mendengar itu Bram langsung memeluk Adi, terharu.