Tuesday, May 31, 2016

Review : the Game of Thrones

Oh well. Saya belum pernah baca most epic fantasy novel seperti Harry Potter, atau the Hobbit, atau the Lord of the Ring, atau Eragon, atau the Lost Hero. Jadi kala saya mulai baca novel oh sungguh tebal ini sempet... argh.

Seperti pembaca kebanyakan yang pada ngeluh soal banyak banget tokoh. Ditambah, om Martin kayak Agatha Christie yang seperti memaksa kita untuk menghafal nama-nama tokohnya, sebab di halaman lain pasti dia bakal muncul lagi, atau secara gak langsung dia turut jadi bagian penting dalam cerita. Oh, yasudahlah. Awalnya saya memang sempat bingung membedakan setiap tokoh penting (ada tujuh tokoh utama dalam cerita), dan saya juga sering bingung apa hubungan satu tokoh dengan tokoh lain. But well, lama-lama juga terbiasa sih hehe (setelah 200 halaman, :D ).

Awalnya saya juga sering ngeluh tentang betapa detail latar yang om Martin jelaskan disini, buat saya terkesan bertele-tele dan manjang-manjangin. Bahkan detail seperti siapa dan asal muasal seorang tokoh pembantu. Yap, tokoh pembantu aja dijelasin banget latarnya, apalagi tokoh-tokoh lain,, berikut detail tempat-tempat. Gak heran buku ini mempunyai tebal 948 halaman.

But after all, i enjoyed it ternyata.

Sinopsis? Sinopsisnya panjang banget euy, haha.

Singkatnya, Winterfell dan keluarga Eddard Stark sudah cukup bahagia menjalani kehidupan mereka yang damai dan sejahtera pasca perebutan kekuasaan Eddard dengan sahabatnya, Robert dari klan Baratheon. Namun semua berubah, things get chaos semenjak Ned dan Catelyn menerima kabar bahwa Jon Arryn (tangan kanan Robert, adik ipar Cat) telah meninggal, kuat dugaan dibunuh. Robert juga meminta Ned menjadi the next tangan kanan Robert. Konflik semakin tajam ketika Catelyn melaporkan telah terjadi usaha pembunuhan anaknya, Bran, yang diduga kuat pelakunya adalah Tyrion Lannister (adik ipar Robert). Jadi tugas Ned ada dua di King's Landing : menemukan sebab dan pelaku atas kematian Jon Arryn dan mencaritahu siapa yang hendak melenyapkan Bran anaknya.

Daaan cerita mulai berjalan dari sini...

Selain cerita yang kompleks, satu hal yang paling saya kagumi dari novel ini adalah karakter-karakternya yang kuat.

Walaupun di novel ini permainan tahtanya dan politiknya masih kurang, malah saya ngerasa novel pertama ini lebih seperti pengenalan tokoh-tokoh yang selama 6 seri ke depan akan memainkan perebutan takhta.

Tokoh-tokoh utama dalam cerita ini ada banyak juga, euy. Nih saya kasih liat silsilah keluarga semua tokoh utama disini haha.


Pertama kali saya lihat novel ini yah belum lama, awal tahun 2016 baru ada di gramedia Batam (fyi, toko buku lengkap di Batam cuman Gramedia disini, itu pun gak lengkap-lengkap amat). Sayang banget kan cuy, padahal udah terbit tahun 2015. Over all saya suka banget sih sama fisik buku ini (sebenernya saya gak masalah sih sama fisik, krn fisik gak nentuin bagus jeleknya isi buku), so classic. Appreciate sama covernya yang dipilih simpel aja, hanya gambar klan, dengan warna merah menyala. Gak banyak hiasan-hiasan di covernya, so simple dan classic. Udah gitu saya suka baca buku tebel yang kertasnya kertas koran, serasa artistik aja huehehe.

Yang paling bikin saya kecanduan baca GOT? Banyak!
1. Terjemahan.
Sepanjang saya baca GOT, saya sering ngomong dalam hati "gilak ini siapa yang nerjemahin sih?". Kenapa? Ini buku terjemahan terbaik yang pernah saya baca, dari segi khazanah kata nya, bahasanya yang sangatttt luwes, dan lain lain. Yap. Gak bohong, ini terjemahan terbaik yang pernah saya baca. Standing applause buat tim penerjemah The Game Of Thrones!

2. Ceritanya kompleks.
Banget! Rumit? Ya. Tapi apa bikin bingung dan bikin kewalahan? Nggak, malah ini yang bikin saya makin jatuh cinta sama GOT. Pantes aja menang Grammy Award dan jadi serial televisi terfavorit di HBO kan?

3. Penokohannya yang kuat.
Belum pernah saya baca novel yang karakternya sekuat ini, serius. Disini, seolah tidak ada yang benar-benar baik atau benar-benar buruk. Semua nya abu. Yang protagonis pun punya sisi munafik, atau sisi sombong, dan lainnya. Well, bahkan untuk seorang Tyrion. Ada yang tau Tyrion disini protagonis atau antagonis? Atau Cersei Lannister. Ya walaupun dia antagonis, tapi saya masih merasakan pusingnya Cersei punya anak segemes Joffrey. Iya, saya gemes sama Joffrey, gak bisa benci, tapi gak mungkin saya suka dengan dia.

Sebenarnya saya pingin baca novel ini alasannya satu : gak dibolehin sama ayah nonton filmnya. Well, if you know what i mean gahahah. Beli buku ini aja diem-diem, gak ketahuan sama ayah ;D

Saya gak nyaranin buat yang dibawah 18 tahun baca novel ini (walaupun saya baca pas masih 17 haha), karena materi dewasanya yang kadang bikin saya... geli sendiri. Kadang i found it too sadis. Iya emang sadis. Materi seks? Ya, kadang bikin saya dan temen ehem-ehem sendiri bacanya. *apasih*  *istighfar*


Dan... Rating buku dari adalah........ 9/10!

Yes! Gak nanggung-nanggung saya kasih nilai hampir sempurna, so epic!

Dan apakah saya akan membaca seri lanjutannya? Absolutely!

Monday, May 30, 2016

Review Jacatra Secret

Tahukah anda bahwa museum Fatahillah  (dulu stadhuis) memiliki luas tanah 13.000 meter persegi?

Tahukah anda jika pusat wilayah Menteng diputar 180 derajat, taman suropati menjadi simbol kepala baphomet (lucifer) dengan gedung bappenas sebagai otaknya?

Tahukah anda terdapat patung Hermes, dewa penulis kitab kabbalah yang memegang tongkat simbol persaudaraan di ujung utara jembatan harmoni?

Tahukah anda di depan tangga utama Stadhuis terdapat kotak yang terdiri dari 208 batu yang disusun 13 baris?

Tahukah anda bahwa bila simbol Mc.D di putar 90 derajat ke kiri akan menyerupai angka 13?

Tahukah anda bahwa monas adalah simbol the sacret sextum?

Tahukah anda bahwa lambang VOC dan freemasonry sesungguhnya berasal dari simbol hexagram?

Dan masih baaaanyakkkk banget fakta-fakta menarik dan amat mengejutkan yang dipaparkan dalam novel The Jacatra Secret. Sesuai tagline nya "misteri simbol satanic di jakarta".



Berikut sinopsisnya yang tertulis di belakang buku.



Cerita dibuka dengan adegan Prof. Sudrajat yang terbunuh di Museum Sejarah Jakarta, dengan petunjuk terakhir yaitu tulisan berdarah "as at dutch". Dari sinilah petualangan Dr. Grant dan Angelina yang cantik jelita (seperti yang sering kali ditegaskan dalam novel. Angelina itu cantik *gak penting*)

Semua materi tentang mister satanic jakarta dipaparkan dengan mudah dipahami dan menyenangkan. Bahkan setiap membaca novel ini saya serasa membaca pemaparan ala Dan Brown.

Tapi, yap. Sayangnya plot dalam cerita ini seperti mentah-mentah meniru The Da Vinci Code oleh Dan Brown. Tokoh-tokohnya pun AMAT tidak berkarakter. Pengisahan terasa sangat dipaksakan dan kaku. Dan saya acapkali geli dengan kisah cinta dalam novel ini (oh, oh, kenapa mesti begini romance nya sih?). Begitu juga beberapa sindiran Om Rizky terhadap aparat kepolisian dan kurangnya upaya pemerintah menjaga warisan sejarah yang dirasa kurang pas dalam novel ini.



Sehingga dengan kata lain, petualangan Jhon Grant dan teman-temannya hanya sebagai media om Rizky Ridyasmara untuk memaparkan fakta-fakta. But well, untungnya, semua kekurangan itu terbantu oleh hal ini. Walhasil buku ini tidak terasa seperti novel, tapi buku sejarah.


Rate? Fakta-fakta yang dijabarkan sungguh sangat mengasyikkan. Dengan baca buku ini saya bertambah pengetahuan amat banyak tanpa mengabaikan cerita yang menurut saya amat buruk.

Okedeh, rate saya....

7,5/10!



Apakah saya bakal baca buku-buku Om Rizky Ridyasmara lainnya lagi? Absolutely!

Mengakhiri review kali ini, saya akan menuliskan bagian terfavorit saya dalam buku ini. Syair Masonik berjudul the Builders.

Kulihat mereka meruntuhkan gedung,
Sekelompok manusia yang di kota yang sibuk;
Dengan gerak serempak dan sorak gembira,
Diayunkan balok dan dinding pun tak bersisa,
Kutanya pada Mandor "apakah mereka cekatan andaikan disewa untuk meraga?"
Dia tertawa dan menjawab, " ya, tidak, tentunya pekerja biasa pun dapat melakukan.
Aku dapat membongkar sehari dua
Yang pembangun diriku berjangka setahun."
Aku berpikir seraya menjauh,
Peran apa yang sekarang kupegang?
Apakah aku yang cermat?
Mengukur hidup dengan mistar dan siku?
Apalah dayaku mengikuti rencana cita,
Sabar melakukan yang terbaik yang kubisa?
Ataukah aku tukang bongkar di kota, 
Puas dengan hanya menghancurkan yang ada?


catatan gak penting banget : walopun saya yakin om Rizky sudah memaparkan sejarah di buku ini dengan bahasa paling ringan, bagi bocah ingusan seperti saya yang masih 17 tahun, saya mesti bolak balik baca ulang karena kurang tanggapnya otak saya yang tumpul ini haha.