Saturday, June 25, 2016

Review Tiger On My Bed

Holaa reader. Akhir-akhir ini saya sering ke toko buku Gramedia Batam. Dan, saya melihat banyak novel Christian Simamora dipajang di depan, di bagian best seller nya, dll. Makin sering saya ngeliat bukunya, makin penasaran saya (tata letak bukunya worked well di saya).

SO... Saya memutuskan buat ngeliat-liat review novel-novel om Christ. Banyak yang ngasih rating tinggi ternyata. Akhirnya... Berbekal harapan bakal menikmati cerita roman yang nggak picisan, seenggaknya ada nuansa baru dalam bacaan saya.

Cerita dikit ya. Saya akhirnya nyari nih novel di situs Bukabuku.com. Sebenernya awalnya sih pengen beli buku Freakonomics dan Apa Kata Socrates?. Karena nanggung, yaudah sekalian aja beli nih novel. Walau ujung-ujungnya dua buku barusan ternyata habis ;(

Jatuh lah pilihan saya ke novel Om CS yang judulnya paling seksi, haha. Tiger On My Bed. Huuu... *at least i'm not naive anyway, HAHA*.

Awalnya emang menduga apakah bakal ada konten dewasa, oh, atau mari lebih spesifik lagi. Alias vulgar. Secara nih novel diklaim sebagai novel dewasa. And what i'm expecting from novel dewasa itu ceritanya gak teenlit.

Okelah, ini dia sinopsisnya.

Talita masih belum bisa move on dari mantan tunangannya, Rizal, yang ternyata lebih mencintai seseorang yang harusnya membantu pernikahannya, sang wedding organizer. He left Talita, dan Talita pun jadi terpuruk. Melihat hal ini, dua sahabat Talita yaitu Fika dan Yana, menyarankan -atau lebih tepatnya, memaksa- Talita untuk menjalin hubungan one night stand. Sekedar pelampiasan dan peralihan nya dari Rizal. Akhirnya Talita dan pasangan reboundnya, Jai, menjalaninya walau sempat hampir gajadi. Makin seringnya mereka bertemu dan make out, mereka kemudian sama-sama yakin bahwa mereka jatuh cinta... Tapi... Apa benar ini cinta atau cuma nafsu? Sungguh mereka jatuh cinta pada pasangan rebound nya?

Klise? Yap, banget. Premisnya bener-bener gak seseksi judulnya. Tapi saya gak masalah dengan cerita klise, saya percaya om Christian Simamora bisa membuat cerita klise jadi beda, atau minimal, masih enjoyable. Mengingat, menulis kembali cerita klise jadi luar biasa memang tantangan yang sulit.

Novel ini habis saya baca dalam sehari. Bukan karena ceritanya yang ringan, singkat, dan bukunya tipis, tapi...

Arrrgghh..... Ternyata ekspektasi saya terlalu tinggi. Walau di klaim novel dewasa, i found it masih terlalu teenlit buat saya. All the mature content is : adegan seksnya. Saya kaget adegannya di jelaskan segitu jelasnya. Berkali-kali saya mengutuk diri "f*ck me! What the heck am i reading?" *Tapi tetep lanjut saya baca, sih, wkwkwk*. Guys,  buku porno dan buku vulgar itu beda.

Selebihnya, ceritanya ya gitu, masih porsinya anak-anak SMA lah. Ceritanya juga terasa agak dipaksakan. Tokoh-tokohnya mirip di novel Jacatra Secret. Gak berkaraker. Maksa. Pengembangan konflik juga terkesan maksa, dan flat banget. Penyelesaiannya terkesan 'heh, gini doang?'.

Saya gak merasa turut dalam cerita, saya gak dibuat simpatik dengan Talita atau Jai. Dan sayangnya, sayang seribu sayang, gak ada pendalaman cerita tentang papa Talita yang katanya bipolar itu, juga tidak ada pendalaman tentang masa lalu Jai yang bisa bikin kita lebih dekat dengan sosok mereka. Saya ngerasa saya cuma ngikutin ceritanya mereka, tanpa larut dalam cerita.

Oh Talita nya gini, oh Jai nya gitu, oh gitu ya. That's it.

It should be fun reading, karena ceritanya ringan (atau lempeng?) harusnya saya bisa menikmati bacaan ini. Tapi saya malah kebosenan.

Serius ini novel dewasa? Kok saya ngerasa novel Paper Town, atau By the Time You Read This I'll Be Dead lebih dewasa ya dibanding Tiger On My Bed?

However, saya salut sama riset mendalamnya Om Christian tentang pekerjaannya Talita. Saya jadi tau hal baru, tentang profesi appriser *betul tak nulisnya?*. Saya juga dimanjakan dengan deskripsi Om CS tentang fesyen. Gak nyangka aja cowok bisa banyak tau tentang fesyen haha. At this point, good job, om.

Over all, saya gak suka sama novel ini. :( Tapi walau pertama kali baca novel Om CS udah kecewa, saya masih optimis novel-novelnya yang lain bakal lebih dewasa, menarik, dan gak lempeng.

Rate : 2/ 10

tambahan : oh ya, di akhir buku ada teaser nya Meet Lame. Saya gak baca sih, udah keburu males haha. Dan ada bonus mainan bongkar pasang, hihi.

Friday, June 24, 2016

Buku yang Harus Saya Baca Sebelum Kuliah

Assalamualaikum sahabat... Wadawww gak kerasa ternyata saya udah tua, haha. Baru lulus SMA nih cuy! Saya menyadari saya bukan pribadi yang baik, or at least usaha saya untuk jadi ribadi yang baik belum maksimal. Liburan ini jadinya saya pake buat, well, baca buku yang bisa mengembangkan dan memperbaiki bagian diri saya yang geblek.

So, sebelum kuliah, saya bertekad baca buku-buku dibawah ini sebagai -salah satu- persiapan saya sebelum kuliah. Semoga work well!

1. Memorizing Like An Elephant

Saya orangnya pelupa, ceroboh, terrible banget deh pokoknya. Dan saya sangat lemah dalam hafalan. In the meantime, buku ini sepertinya punya cara antimainstream. So, gak dua kali saya mikir saya butuh buku ini.

2. Beasiswa 5 Benua

Biar kata saya gak kuliah di perguruan tinggi negeri, liat aja ntar eyke kuliah di luar negeri. :P

Berbekal cita-cita ini, saya pasti butuh banyak refrensi tentang kiat dapat beasiswa sekolah ke luar negeri, kalo gak beasiswa mesti jual rumah sama mobil juga kayaknya gak cukup deh. A Fuadi sendiri udah banyak banget dapet beasiswa, so, saya menaruh ekspektasi tinggi semoga buku ini bisa bantu saya banyak.

3. Fadhail A'mal

Bisa dibilang, buku ini buku yang paling mengubah hidup saya, dan paling banyak mengubah cara berfikir saya. Buku ini terbagi jadi 5 bagian, tentang keutamaan para sahabat, keutamaan shalat, keutamaan berpuasa, keutamaan membaca Al-Qur'an, dan keutamaan berdzikir. Ya walaupun masih ada yang dhaif sih di dalemnya. Bagian tang keutamaan para sahabat yang paling bikin saya nangis tersentuh, atau nangis karena malu pada diri saya sendiri karena tidak setabah para sahabat nabi seperti yang diceritakan di buku ini. Terakhir saya bacanya SD kelas 6, lama banget yak. Makanya saya sekarang udah ternodai imannya, haha. That's why i need this badly.

4. 7 Habits of Highly Effective People

Hmmm apa ya. Ya pastinya saya harus bisa lebih telaten dalam pekerjaan saya ke depannya. Buku-bukunya Stephen Covey banyak dijadikan refrensi orang kalo bikin buku motivasi. He's a maestro. Dan saya bertekad tidak hanya membaca satu buku Covey ini aja, tapi juga buku-bukunya yang lain!

5. Terapi Berpikir Positif

Sebenernya saya cuma cari buku yang membahas bagaimana cara menghipnotis diri sendiri, bagaimana cara mengubah paradigma alam bawah sadar, gitu-gitu. aya juga punya masalah dalam berbicara -semua orang yang kenal saya tau itu-, dan menurut saya mengatasinya adalah dengan bicara menghipnotis diri bahwa saya bisa bicara dengan lancar dan jelas. Tapi sejauh ini, well, sepertinya cuma buku ini yang ngebahas tentang yang itu. Saya punya masalah, setiap mau tidur, saya rasanya kebelet buang air kecil, padahal urin yang keluar sedikit sekali, atau malah gaada.

Yap, itu dia buku-buku yang harus saya baca sebelum mulai kuliah. Semoga waktunya cukup!


Dear...

Dear my ex : hey, apakabar? Wish could talk and meet you again, as old best friend.
Dear my love : you are the greatest thing i've ever had for this 4 years. Thank you for our adventures, love you so much, can't live without you.
Dear my parents : i love you, you gave me the best things for me. But please understand me and don't be lebay for silly little thing. No one likes that.
Dear siblings : i love you, but we know that we're not close, and it's been always awkward among us to talk about anything. i just hope that we can understand and try hard to do the best for each other.
Dear my ex-best friend : didnt have any. how could i?
Dear my high school : literally my worst lifetime. And no one knows how glad that i finally leave this school. The only good thing that i got from you is my best friends.
Dear my future husband : nothing, i just wish that it is my current lover.
Dear my future kids : i'm sorry for being a bad girl when i was a teen and have nothing for you to pride. I hope, you have your father's wisdom, and have my physic.

Monday, June 13, 2016

Esensi Benar

Kalau saya bilang suatu hal itu benar, dan orang-orang lain bilang itu salah, dan tidak ada tulisan yang gamblang mengatakan itu salah atau benar, jadi yang mana yang bener? Kata mereka atau saya?

Apakah kebenaran berdasarkan berapa banyak orang yang menerima atau bagaimana?

Siapa yang berkata benar?

Kemudian, misalnya ada seseorang yang punya sifat sombong, arogan dan cari perhatian. Tapi dia rajin, pintar, sopan, banyak teman yang menerimanya dan disukai guru. Apa artinya sifat sombong, arogan, dan caper kalau dia sudah diterima masyarakat?

Dimanakah esensi benar?

Apakah kebenaran itu tidak mutlak?

I Hate My Self

Boleh kah kita menyalahkan seseorang yang punya karakter jelek pada orang tersebut saja? Bolehkah kita menyalahkan lingkungan tempat ia tumbuh? Tapi bukankah semua orang punya sifat alami masing-masing?

Saya membenci diri saya sendiri, sebenarnya. Saya iri, melihat orang lain yang basicnya punya attitude bagus. Dia pintar, multitalenta, rajin dan rapih.

Saya sempat bertanya-tanya, darimana dia dapat attitude bagus seperti itu? Apakah lingkungan dia bersekolah yang kondusif? Atau karena memang punya orang tua yang sama-sama punya attitude bagus?

Ternyata, ayah dia seseorang yang sangat mementingkan akademik. Di sisi lain dia punya ibu yang lebih mementingkan pengembangan diri di luar akademik. Karena itu lah, -selain otaknya emang encer-, dia bisa seimbang antara sekolah dan kegiatan non-akademik. Keduanya bener-bener berjalan dengan baik. Well, dia bersekolah yang punya ekstrakurikuler bagus, aktif, punya fasilitas belajar yang memadai, dan guru yang niat dan jelas.

Saya mengidolakannya, cantik, pinter, baik, fashionable, feminim lagi. Oh! Siapa yang gak pingin seperti itu.

Diam-diam, saya coba mengikuti dia. Apa saja tentang dia. Saya coba mengikuti mode fesyen dia, sepatu, tas, baju, dll. Tapi oh, saya lupa saya bukan anak yang punya budget buanyak supaya bisa ngikutin fesyen dia. Setelah cari-cari pakaian dan aksesoris yang mirip dengan punya dia, i found it is pricey banget. Dan saya lupa, mana bisa saya ngikutin gaya dia. Dia gak berjilbab, jelas beda. Budget pun beda.

Saya coba ngikutin cara tertawa dia, bicara dia, bahan bacaan apa yang dia baca, dan lain-lain. Saya coba ikuti semua.

But well, ternyata kebanyakannya gagal.

Semakin saya coba menyerupai dia, semakin saya sadar dan menampar diri "but i'm not her anyway".

Dan dari situ, saya membenci diri saya.

Bukan nasib saya yang tak seberuntung dia yang saya sesalkan. Saya bersyukur atas apa yang saya punya. Tapi saya benci diri saya.

Saya jauh berkebalikan dari dia. Saya basically orang yang males. Saya jorok, berantakan, semua orang bilang "kau cewek tapi gak rapih?". Saya gak pandai artistik, wether ngedit foto, gaya berpakaian, nyanyi, gambar, pokoknya saya gak punya keindahan apapun. Saat melihat foto diri saya, saya malu karena gak punya pose bagus. Dan saya gak bisa menemukan, dimana letak daya tarik saya sebagai gadis?

Saya gak punya talent apa-apa. Saya bawaannya kalo ngomong itu ceplas ceplos, suara keras. Saya iri
 dengan teman-teman saya yang bicaranya halus, dan mereka gak pernah berkata hal-hal yang nyengit, when i do it accidentally. Seringkali saya gak sengaja mengucapkan sesuatu, malah bikin orang sebel atau ngetawain saya. Sialnya, saya gak tau saya salah dimana. And at the same time, saya bukan orang yang pendiam. Oh, alam semesta, apa sebaiknya aku menahan bicara saja?

Dan salah satu aib yang kerap bikin saya makin benci sama diri saya, semua orang tau ini. Kurangnya kemampuan saya dalam berbicara. Saya kalau ngomong suka kecepetan, tiap kata nyangkut-nyangkut. Artikulasi saya gak jelas.

Saya jengkel dengan diri saya yang teledor, lelet, telmi. Saya gak pintar, baik akademik maupun non. Dan Tuhan tau saya pernah mati2an belajar sampai gak tidur, dan kemampuan saya masih rata-rata. Saya suka telat faham dengan apa yang guru dan teman ajarkan. Bodohnya saya!

Dan pada akhirnya, kalau saya ditertawakan teman-teman saya, saya tidak bisa mengklaim mereka jahat. Saya memang pantas ditertawakan.

Saya bertanya-tanya, kenapa saya begini? Dan kenapa saya punya watak yang tidak selembut teman-teman saya? Banyak memang sifat saya yang diturunkan oleh orangtua saya. Tapi bolehkah saya menyalahkan mereka atas hal jelek yang mereka turunkan pada saya? Bolehkah saya iri dengan anak lain yang mewarisi semua hal baik dari orangtuanya?

No matter how i tried untuk memperbaikinya, sifat alami saya tetap sama.

Mungkin saya produk gagal.

Tapi apa alam semesta benar-benar pernah menciptakan suatu produk gagal? Kalau ya, saya yakin saya contohnya.

Being introvert, yang sialnya gak introvert banget, alias introvert cerewet bikin saya serba salah. Saya jadi takut bergaul... Saya takut kalau saya membaur, saya akan ditertawakan lagi -walau itu pantas-. Apakah saya sebaiknya membenamkan diri diantara buku-buku saya? Menyendiri saja hanya bersama Tuhan saya yang Maha Penyayang?

Sunday, June 5, 2016

Reviw Alpha Girl's Guide

Akhir-akhir ini, saya sering ke gramedia batam, niatnya sih mau nonton atau main game atau ngapain lah, tapi melipir-melipir dulu haha. Dan buku Alpha Girl jadi buku yang dipajang di pintu masuk Gramed.
Tapi saya gak pernah tertarik sama buku kecil dan tipis, apalagi yang sekedar best seller, booomig dan nge-trend. Saya malah lebih suka buku tebal haha *dasar aneh*.

Tapi suatu hari seorang sahabat saya habis dari Bandung (intensif SBMPTN di adcourse), pulang-pulang beli buku ini terus pas sleepover di rumah saya bawa ni buku. Penasaran lah, akhirnya saya baca buku ini. Nggak sampai habis sih, tapi saya baca bagian yang 'paling' menarik aja.

Buku ini keseluruhan berisi tanya jawab seputar permasalahan wanita umumnya -ya, umumnya-, dan bagaimana Alpha Gilrs mengatasinya menurut om Hnery Mampiring.



Suka dengan kemasannya yang imut dan youth banget, serasa masih anak SMA*udah lulus coooyy* kalo megang buku ini wkwk *18 tahun itu sudah tua, bro*. Ilustrasinya lucu-lucu, tulisannya readable dan unyu, cocok buat mata saya yang habis berkedut baca the clash of kings & madilog.

Gaya bahasanya ringan, kayak lagi ngomong sama adek sendiri *eh yang cuma jadi adek*. Tidak terkesan menggurui, ringan, tidak bertele-tele tapi jelas. Tipikal buku yang habis dalam sekali baca lah.

Tapi......

Saya pribadi gak masalah sebenernya, dengan bacaan yang kemasannya gak menarik, atau yang gak ada gambar sama sekali di dalamnya, atau kertasnya kertas koran, dengan satu halaman ada 300 kata. Selama isinya bikin penasaran, saya pasti baca.

Apalagi sebenarnya saya paling gak suka sama buku motivasi atau pengembangan diri. Tapi, toh, saya masih baca buku Blink, atau bukunya Stephen Covey, atau Napoleon Hill. Walaupun bahasanya agak membosankan, dan terkesan bertele-tele, tapi materinya nempel banget di otak.

Dan... Untungnya saya gak menaruh ekspektasi tinggi-tinggi.

Alpha Girl's memang membahas masalah seputar wanita, tapi pertanyaan yang diajukan menurut saya terlalu umum. Ya ada sih beberapa yang menarik, selebihnya menurut saya sudah banyak dibahas di internet, buku-buku lain. Malah, -bukan bermaksud membanding-bandingkan-, saya lebih suka Salon Kepribadian Muslimah by Asma Nadia, isinya mirip-mirip Alpha Girl's Guide, tapi isinya gak mainstream *setidaknya menurut saya*.
                      gambar dari google yaw, ini salah satu tanya jawab yang menarik buat saya


Bahkan, beberapa bagian di buku ini bikin saya mengerutkan dahi. Kayak misalnya, Alpha Girls itu kalo kerja jangan sering main hape, atau lelet, gitu-gitu. Atau, ada yang nanya, gimana ya cara nolak pacar yang minta foto nude atau ML? Atau, Alpha Girls yang berpacaran itu tidak boleh menjadikan pacaran mengganggu sekolah.

Hah? :/
              
Bisa dibilang, banyak hal yang sudah seringgg banget dibahas di artikel, atau majalah atau mana lah yang dibahas lagi di sini, dengan jawaban yang menurut saya -banyak banget- yang sama aja. Tanya jawab yang dibahas menurut saya terlalu umum, beberapa terkesan gak penting. Sehingga, saya gak banyak menemukan spesialnya buku ini dibanding buku-buku lain.

Lagipula, buku ini terlalu teenlit buat saya. Cocoknya dibaca untuk usia anak2 SMA sampai dibawah 23 *lah berapa usiaku?*. Dan cocok dibaca pas lagi penat aja.

SO....

Over all, all i like about this book cuman fisiknya yang cute dan youth banget. Tapi isi dan materinya? Gak banyak ngaruh ke saya.

Rate : 2,5/10

Saturday, June 4, 2016

Seandainya Reinkarnasi Ada

Seandainya reninkarnasi itu ada, kita akan hidup sebagai siapa di kehidupan selanjutnya?

Apakah kita akan hidup sebagai seseorang yang kita inginkan seperti itu?
Atau apakah kita akan hidup sebagai seseorang yang total berbeda sifat, asal, dan nasibnya?
Atau mungkin kita akan hidup sebagai mahluk lain selain manusia?
Atau...

Apakah kita akan hidup sebagai orang yang bernasib baik dan beruntung sebagai hasil dari perbuatan baik kita atau hidup susah dan menyedihkan akibat perbuatan tidak baik kita di kehidupan kita kini?

Kalau ya, lalu apakah kita tau perbuatan buruk kita di kehidupan sebelumnya? Apakah kita tau bahwa kita sedang diadili?

Kalau kita tidak tau, lantas what's the point?

Untungnya saya yakin, reinkarnasi itu tidak ada

Friday, June 3, 2016

Review Kisah Sang Penandai

Novel-novel Tere Liye adalah salah satu bacaan saya semasa SMA. Novel pertamanya yang saya baca, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, mampu membawa saya larut dan membuat saya langsung jatuh cinta pada Tere Liye. Saya pun meneruskan dengan membaca novel-novel lain seperti Sunset Bersama Rosie, Kau aku dan sepucuk angpao merah, Bulan, Sekuel Negeri Para Bedebah, dan Kisah Sang Penandai.

Pertama saya penasaran dengan sinopsisnya yang -memang biasanya- singkat. Namun, saya tidak kunjung menemukan novelnya terjual di Gramedia Batam -saya masih belum berani beli online-. Jadilah saya penasaran, semakin penasaran dan ekspektasi pun semakin tumbuh tinggi.



Sampailah saya menemukannya -lewat situs online Bukukita.com-. Saya seneng banget dan langsung order, dengan ekspektasi sangat tinggi. Hari barang tersebut tiba, saya sempat terkejut melihat novelnya yang cukup -sangat- tipis dibanding novel-novel Tere Liye lainnya.

Baca lah saya...

Kisah ini dimulai dengan perpisahan. Jim, pemuda yatim piatu yang hanya punya kemampuan memainkan biola di acara-acara pernikahan di desanya. Sampai satu hari, saat dia sedang bekerja menghibur tamu undangan di acara pernikahan temannya, dia bertemu dengan cinta pertamanya, Nayla.

Benih-benih cinta tumbuh pesat diantara mereka, dan jadilah mereka sang pecinta. Namun Nay adalah putri bangsawan, dan Jim hanyalah pemuda miskin papa yang hidup sendiri. Sudah bisa ditebak, keduanya menjalin kisah cinta yang terlarang. Singkat kata, daripada menanggung siksa terpaksa menikah dengan pria selain Jim, Nay memilih mengakhiri hidupnya.

Jim yang kehilangan, menyesal karena telah menjadi pengecut, kemudian bertemu seorang absurd yang menamai dirinya Sang Penandai. Jim lalu diincar oleh pasukan pedang karena Nay yang dikira meninggal di tangan Jim. Sang Penandai menyuruh Jim untuk naik ke sebuah armada kapal dan bekerja disana. Untuk menemukan tanah harapan dan mengukir kisahnya sendiri...

Saya sangat menikmati penggambaran kehidupan di atas kapal yang di tulis om Tere. Lainnya, layaknya seorang penulis novel yang sudah profesional, saya berhasil dibuat simpatik dan merasakan sendiri perkembangan karakter Jim yang betapa pun berubah, hatinya tetap rapuh dan lemah. He is the best at this, ya. Om Tere penulis lokal terbaik menurut saya, dalam hal perkembangan karakter tokoh dan dalam hal membikin kita larut dalam cerita. Walau....

Klise? Ya sih, haha. Dan seperti biasa, Tere Liye selalu menanamkan nilai-nilai kehidupan yang dalem euy dan mampu membuat hal klise menjadi menarik, dan gak sekedar gitu doang.

Ya, over all saya menikmati novel ini. Dan hanya hal diatas yang membuat saya mampu melahap novel setebal 294 halaman ini dalam 5 hari (atau kurang, karena sambil baca novel Sycamore Row juga)

Namun... Taste petualangan Jim dan Pate tidak terasa. Bahkan saya tidak merasakan sensasi tegang tiap adegan pertarungan.

Seperti banyak di novel lain, selalu ada tokoh yang 'menjelma' sosok om Tere untuk jadi 'the wise one' yang sepanjang cerita akan memberi wejangan, walau tidak terlalu terlibat dalam jalannya cerita. Well, you know what i mean right? -misalnya, tokoh Pak Tua dalam novel Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah, Oma dalam novel Sunset Bersama Rosie, atau si malaikat dalam novel Rebulan Tenggelam di Wajahmu-. Saya lagi-lagi tidak menyukai sosok the wise one tersebut, -masih- terkesan cuma numpang lewat buat ngasih nasehat.

Kemudian, seperti kebanyakan pembaca lain, saya merasa gak puas dengan penyelesaian cerita. Goal cerita yang mengajarkan kita untuk berdamai pada diri sendiri seperti kurang kena. Kenapa Jim tidak dibuat membuka hatinya pada wanita lain -yang jadi tokoh korban dalam membangun konflik di novel- setelah dia akhirnya ikhlas melepas Nayla? *Ups, spoiler :D *.


                               Lebih suka cover yang ini, lebih keren gimana gitu haha.

Pada akhirnya, saya seperti tidak mendapat konklusi, pantaskah kita melanjutkan hidup dengan cinta yang baru, setelah cinta yang lama meninggalkan kita untuk selama-lamanya?

In the end, bukannya novel ini terlalu childish buat saya -walopun iya sih, saya ngerasa sudah tua untuk bacaan ini-, tapi saya hanya menikmati novel ini, tidak sampai menyukainya. Dan... saya ngerasa kurang dapet pelajaran dari novel ini. Menurut saya, Sang Penandai hanyalah buku yang BOLEH lah dibaca pas waktu luang, atau kalau lagi gabut -boleh dibaca, bukan patut dibaca-

Rating saya 4,5/10.

Okelah, sekian review saya. Terimakasih dan see you next post!

Thursday, June 2, 2016

Review The Revenant (novel)




Saya adalah movfreak, jadi sekali lihat trailer film terbaru 2 jagoan ganteng Leonardo de Caprio dan Tom Hardy main film, apalagi bertema semacam viking gitu (tapi ini bukan viking, gatau deh namanya), langsung saja kepincut dan gak sabar nungguin filmnya. Apalagi The Revenant Leonardo de Caprio memenangkan piala oscar as the best actor, makin penasaran dong sama filmnya.

Awalnya saya gak tau film ini was inspired by the novel, sontak saya makin kesurupan dan ngebet pengen baca novelnya. Saya pun menaruh ekspektasi tinggi untuk merasa puas membaca novel ini.

Well ya, salahnya saya, saya lupa dengan embel-embel "inspired by" beda jauh sama"based on".

Bercerita tentang Kapten Henry dan rombongannya yang ditugaskan sebagai penjelajah untuk kepentingan perdagangan bulu. Hugh Glass adalah kepercayaan Kapten Henry, dan as we all know, tiba-tiba terjadi suatu musibah mengerikan. Glass yang sedang berjaga sendirian diterkam sebuah beruang grizzly, yang menyebabkannya luka parah di sekujur tubuh dan setengah sadar, sehingga tidak bisa melanjutkan perjalanan rombongan Kapten Henry. Mereka pun membopong Glass sepanjang perjalanan. Sadar bahwa hal itu akan melambatkan dan menghambat (-dan tetu membahayakan) penjelajahan mereka, Kapten Henry dengan berat hati memutuskan dua orang untuk tinggal bersama Glass, merawatnya semampu mereka, dan bila tiba waktunya bagi Glass, mereka menguburkan Glass dengan layak, dengan upah yang besar. Dua orang, Fitzgerald yang sebenarnya tidak bisa dipercaya dan Bridger yang masih terlalu muda dan rapuh mengajukan diri.

Hari dimana Glass mulai sadar, Fitzgerald -yang tidak sabar dengan kematian Glass- melihat segerombolan pasukan suku Ree yang memusuhi siapa pun orang asing. Fitzgerald memutuskan untuk meninggalkan Glass. Bridger awalnya keberatan, tapi mereka tidak punya pilihan lain yang lebih membahayakan dirinya.

Namun, yang salah, Fitzgerald pergi meninggalkan Glass yang terkapar dengan membawa senapan kesayangan Glass bahkan juga belati milik Glass yang seharusnya jadi alat pertahanan Glass.

Dan, Glass bertekad untuk membalas dendam.

Beda kan sama trailer? Ya, saya sempat bingung. Sepanjang membaca novel, saya menanti-nantikan adegan seru seperti yang tergambar pada trailer. Namun, cerita justru sangat amat datar sepanjang novel setebal 383 halaman ini. Saking datarnya, sampai-sampai hampir tidak terasa ada konflik. Bahkan di ending ketika Glass akhirnya bertatap muka dengan Fitzgerald -yang telah menjadi incarannya selama ini-, sayang sekali tidak ada klimaks dan penyelesaian yang "hah, gitu doang?".

Walau begitu, penggambaran dinginnya pegunungan Rocky sebagai latar cerita dan perjuangan Glass bertahan hidup sangat jelas, gamblang dan sangat imaginable.

Saya juga kagum dengan Michael Punke yang melakukan riset cukup mendalam dengan beberapa tokoh yang nyata dalam novel ini, kita dapat mengenal mereka dengan latar belakang yang secara rinci dipaparkan oleh Punke, tapi...

Saking terperincinya, sampai-sampai saya sering melewatkan bagian pengenalan tersebut. Seringkali menurut saya, pengenalannya terlalu detail dan tidak berpengaruh dalam bobot cerita. Begitu pun tokoh fiksi, Michael Punke mengenalkan kita pada tokoh -yang sebenarnya gak ada di kejadian nyata- dengan sangat rinci, walaupun sama sekali tidak mempengaruhi jalannya cerita. Which is sebenernya sangat disayangkan, dan ini satu hal yang membuat saya sering lelah dan bosan membaca The Revenant.

Pada akhirnya, ketika saya berharap banyak pada petualangan Hugh Glass yang legendaris, saya sering ditampar dengan kenyataan bahwa "ini novel fiksi bersejarah!". Tapi ketika saya membacanya sebagai novel sejarah, saya sering mendapati bagian yang tidak perlu hadir dalam novel.



Apakah Michael Punke membuat novel ini untuk mengenalkan kita kepada sang penjelajah yang melegenda Hugh Glass? Atau hanya ingin membuat cerita yang terinspirasi dari kisah Hugh Glass?

Over all, sayang saya sangat tidak menikmati dan menyukai novel ini, heu heu heu.

Rating saya 2,5/10.

Jelek banget ya ratingnya, duh maaf bagi yang gak setuju. Penilaian ini sebagian besar berdasarkan selera saya.

Filmnya? Walau alurnya lambat, tapi keren! Dan saya bersyukur filmnya hanya "inspired by", bukan "based on".

Well, xoxo