Monday, July 17, 2017

Buku Dewasa & Buku dengan Konten Dewasa

Hasil gambar untuk tiger on my bed

Buku dewasa, adalah buku yang isinya lebih berat daripada buku teenlit (atau buku remaja). Buku dewasa biasanya sarat akan pesan dan plot yang kompleks.

Berbeda dengan buku berkonten dewasa. Persetan dengan pesan, plot, atau cerita apa pun. Konten dewasa, alias konten yang tidak baik dikonsumsi mereka yang di bawah 18 tahun, maka akan punya label buku dewasa. Contohnya? Kekerasan, sadis, kontroversi, atau yang paling mudah membedakan buku dewasa dengan buku berkonten dewasa adalah sex content.

Maka, tak jarang kalau ternyata, buku-buku teenlit seperti misalnya karya Tere Liye, Salim A. Fillah, Felix Siauw, de el el lebih pantas disebut buku dewasa dikarenakan materi yang mendewasakan, tapi karena tidak ada konten kekerasan, vulgaritas, kontroversi, de el el, maka tidak disebut buku dewasa.

Oiya anyway. Thanks to om Christian Simamora, yang secara tidak langsung (atau langsung?) telah mengajarkan saya untuk membedakan mana novel porno dan mana novel vulgar.

Novel porno, bodo amat apa pun ceritanya, selama ada adegan seks yang blak-blakan, maka dia porno.

Novel vulgar, lebih menjadikan (contohnya materi seks) sebagian bagian dari cerita, alih-alih pelengkap cerita. Tidak paham maksud saya? Check out novel The Fifty Shades of Grey. Well iya sih emang pornografinya kuat banget, tapi materi seks di dalamnya adalah bagian dari cerita. Novel ini bercerita tentang kejiwaan dan seks.

The Game of Thrones? Apakah porno? Hmmm menurut saya sih nggak, tapi vulgar iya.

Dan yang bikin saya sedih, novel dengan label dewasa, yang menjual pornografi itu bebas banget terjual dimana-mana (i've gave one name, haha). Dan ternyata ada orang-orang yang membeli buku label dewasa itu, katanya supaya bisa lebih dewasa.

Dan pertanyaan nya...

Kenapa novel porno itu laku dan punya rating bagus dimana-mana, padahal ceritanya lebih tidak dewasa daripada novel yang tidak berlabel dewasa?

Tentang Make Up Alis Gue (beserta review)

Assalamu'alaikum, hola, temen-temen. Kali ini gue mau ngomongin yang keciwi-ciwian lagi, wkwk. Kali ini soal alis. Jadi alis gue itu tipis cuy, walau gak tipis tipis kali.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

Trus ternyata, kayaknya, kayaknya nih ya, kalo alis gue agak tebelan gue lebih manis gitu HAHAH *dirajam*. Jadi, gue beli lah make up make up alis. Cuma empat sih (cuma?), well, ini dia review make up alis gue!

1. Maybelline Fashion Brow Pomade Crayon
Kebetulan make up pouch gue ketinggalan di rumah temen, jadi pas nulis ini gue gak megang make up gue, jadi gatau deh nama warnanya apa. Yang jelas ini shade cokelat yang paling gelap.

Ini make up alis yang paling sering gue pake kalo lagi jalan-jalan (sejauh ini baru dipake buat jalan-jalan, gue belum ada acara apapun). Sebenernya gue pake make up alis cuma buat nebelin alis sih, bukan pengen yang kayak model-model gitu, atau kayak gambar dibawah ini ;D

Hasil gambar untuk crayon alis maybelline
i owe the pict

cara gue make krayon adalaaah : pertama gue gambar dulu seperti biasa, habis itu gue sisir ke atas (biar nyebar krayonnya), trus gue sisir lagi ke samping, udah gitu biasanya gue suka ngusap pake jari (supaya gak ketebelan). Ini nih contoh hasilnya :

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

atau

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.
yang tengah ya woy, wkwk

see, gue nyaris gak keliatan kayak pake make up alis, bener-bener natural, cuma keliatan kaya tebel doang kan? Tapi biasanya suka jelek di ujungnya, kayak sering belok banget atau kegedean, jadi yaa emang mesti pinter-pinter sih makenya. Liat aja foto yang belakangnya buku-buku, alis yang sebelah kanan (dari foto).

2. Maybelline Fashion Brow 24h Coloring Mascara
Gue juga suka banget pake ini, kadang gue pake kalo lagi outfit nya rada rempong. Tebel, warna, lebar alisnya, itu paaasss banget. Sukaakk. Tapi, jujur saja susah banget make nya, butuh skill, cuy. Soalnya neken dikit bisa ketebelan dan gak rata gel nya. Trus aku suka gak rapih di ujungnya. Sedih, padahal liat di google, orang-orang pada rapih makenya :(((

Hasil gambar untuk MASKARA alis maybelline

i owe the pict too

Ini dia beberapa hasil gue


maafkan muka sengak ini, candid by bokap

Foto Meuthia Nabila P.

anyway, my face was never been this flaw less, the auto-beauty made me feel so munak :D

bagus kan ya, gak keliatan ujungnya ;D

Over all, i really love this, mungkin mesti lebih banyak latihan untuk melatih skill *a elah*. Oiya warna nya juga cokelat shade yang paling gelap.

3. Etude House Drawing Eyebrow
Pertama kali nyobain ini, gue digambarin sama mbak-mbak yang jaga, dan hasilnya bagus banget, langsung naksir dah gua. Makanya tanpa mikir, gue langsung nabung buat beli ini. Oiya warna nya sama, cokelat shade yang paling gelap.

Hasil gambar untuk etude house drawing eyebrow
again, i owe the pict.

nih dia hasil yang dipakein sama mbak mbak wkwk

Foto Victor Quintoro.

Foto Victor Quintoro.

nah yang bawah ini make sendiri, ada yang gagal ada yang betul wkwk

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.
ini edisi gagal make, jadi jelek banget hasilnya haha

Cara makenya, ya gatau sih betul apa nggak nih caranya. Gue gambar seperti biasa (mengikuti garis alis asli gua), tapi krayonnya vertikal. Gue gambarnya gak naik, tapi datar, trus baru deh ujungnya gue gambar dengan krayonnya miring (horizontal). Terus gue usap pake jari, supaya gak ketebelan.

Ini dia beberapa yang (gue anggap) berhasil wkwk.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

maafkan kealayan saya wkwk, saya pun geli melihat wajah saya

Intinya, beda skill beda hasil wkwk. Akhirnya karena saya sering gagal make ini, jadinya saya cuma make sisirnya doang.

4. Pensil Alis
Pensil alis apa aja dah. Pensil lebih ribet lagi biasanya bro. Beda keruncingan, beda panjang pensil, beda hasil haha. Biasanya warna yang gue pake itu yaah paling cokelat tua lah. Merk nya random (gua gak punya pensil alis, biasanya gue make punya emak).

Ini dia salah satu hasil yang tak terduga, wkwk.

Foto Meuthia Nabila Pratiwi.

Tapi ya gak bakal lah gue pake alis kaya gini cuma buat sehari-hari atau jalan-jalan, but i hope i can make some like this in menor occasion.

Okelaaah itu dia beberapa make up alis yang gue punya beserta review nya. Sekian semoga bermanfaat dan kalian suka, byeee wasalamu'alaikum!

Friday, July 14, 2017

Lelah Membenci Diri Sendiri

Saya orangnya ambisius, and everybody knows that. Tapi konyolnya, saya itu ceroboh dan sebenernya males.

Saya kerap membuat target yang tinggi untuk diri saya. Saya banyak mengikuti kegiatan, banyak melakukan ini dan itu, supaya saya bisa jadi orang yang lebih baik, lebih pinter, lebih dewasa, lebih ini itu. Well at least, i thought i'd be more bla bla bla by doing this, by doing that, by doing bla bla bla.

Misalnya, saya membuat banyak target yang harus saya lakukan selama liburan di antaranya :
1. Menulis 4 postingan di blog
2. Menonton 10 video edukatif di channel Youtube sehari
3. Membaca 10 artikel di situs favorit (itu lho yang suka saya sebut, tirto, qureta, askthephilosopher, de el el)
4. Menonton film terbaik (paling berkualitas) versi blogger tertentu, minimal 1 sehari
5. Khatam 1 judul buku dalam seminggu-an.

Saya 'berjuang keras' untuk ngelakuin 5 hal di atas. Tapi, pada akhirnya saya malah keteran sendiri, nggak enjoy, trus malah ending-endingnya yang saya lakuin cuma setengah-setengah. Dan karena tidak sesuai target, saya jadi merasa gak becus, bodoh, sial, menyedihkan. Saya benci diri saya. Saya benci saya tidak dapat melakukan hal-hal di atas dengan baik dan nikmat.

...

Saya pingin nikmatin liburan ini, saya pingin berlibur tanpa beban pikiran dan tuntutan sekali pun. Tapi, kalo saya gak ngelakuin hal-hal di atas, atau nggak produktif, berarti hidup saya sia-sia. I wasted my time. And i hate my self because of that.

Saya juga sepenuhnya sadar, ketika saya memutuskan bergabung dengan BEM, mengikuti berbagai kepanitiaan, menjadi volunteer pengajar SD di desa, mengikuti seleksi lab, mengikuti lomba, berarti saya keluar dari zona nyaman saya. Katanya, keluar lah dari zona nyaman mu, maka kamu akan lebih bla bla bla, pokoknya lebih baik lah gitu. Saya memang merasa terbebani dengan itu semua. Saya tidak nyaman. Saya capek, saya ini, saya itu. Terutama ketika saya gagal menjalani itu semua, saya makin sedih dan makin membenci diri saya sendiri.

...

Sebenarnya saya capek membenci diri saya ini. Saya capek menuntut banyak hal dari dalam diri saya. Saya ingin mencintai diri saya sepenuhnya, dan menikmati setiap momen.

Saya capek membenci diri saya sendiri....

...

Tapi lucu nya, saya gak bisa berdiam diri. Saya menganggap hidup saya sia-sia dengan tidak melakukan apa-apa. Saya harus tetap bergerak, walau sering gagal, walau saya menanggung beban berat.

Ketika saya membenci diri saya karena gagal menjadi lebih baik, berarti saya benci keadaan saya yang biasa-biasa, sekarang ini. Saya benci menjadi lebih baik. Bukan kah ternyata... Kita memang seharusnya membenci diri kita yang tidak lebih baik?

Bukan kah memang seharusnya kita tidak menyukai berdiam diri, dan tidak membuat diri ini menjadi bermanfaat bagi sesama?

Ketika saya gagal mencapai target kemudian membencinya, bukan kah berarti saya benci menjadi orang yang biasa-biasa saja?

At the end.

Ternyata saya menyadari.

Kalau kita terlalu nyaman dengan keadaan kita saat ini, kalau kita tidak berhasrat untuk mendorong diri kita lebih keras,

Kita tidak akan berkembang

Thursday, July 13, 2017

Yang Katanya Bukan Urusan Kita // Things that (shouldn't be) Matter

Orang tua berkewajiban menafkahi kita. Beberapa kebutuhan (finansial) kita, misalnya akademik, kesehatan, dan sehari-hari itu memang wajar kalo kita minta duit sama orangtua, ya karena memang itu kewajiban mereka.

Guru kimia kelas 12 saya selalu mengatakan, jangan mikirin berapa duit orangtua, dari mana mereka dapat duit, yang penting tunaikan kewajibanmu kepadanya dengan belajar tekun.

Dulu waktu masih kelas 12, saya sering cerita-cerita dengan sahabat-sahabat saya. Dan salah seorang dari mereka waktu itu bimbang. Dia pengen ikut les intensif SBMPTN. Jadi lesnya itu juga ada akomodasi berupa hotel sama pangan, jadi ya mahal lah, berapa puluh juta gitu. Orang tua dia dukung-dukung saja, seolah uangnya udah tersedia (bapaknya dokter umum, ibunya guru). Tapi dia nya yang galau, ya karena mahal itu. Kami gak pernah tau sih persisnya sekecukupan apa orang tuanya, sehingga dia itu seringan apa dalam mengeluarkan uang. But still, namanya anak ya. -Endingnya sih dia tetep ikutan les itu-.

Waktu kelas 9, dari sekolah ada yang namanya pemantapan. Tiap bulan bayar 100ribu. Waktu wali kelas ngingetin kami buat bayar uang pemantapan, saya denger temen sebangku saya nyeletuk gini "aduh kasian bapakku, uang tabunganku tinggal dikit lagi" (btw yang bagian uang tabungan itu saya kurang inget pastinya gimana ucapannya, pokoknya intinya gitu). Saya pingin ngebantu, tapi saya juga ga punya uang.

Sebenernya dia berhak sih minta duit ke bapaknya, tapi dia gak tega. Penghasilan bapaknya sebagai tukang ojek mana lah gampang buat ngeluarin cepek.

Seorang anak berhak minta duit ke orangtua nya untuk hal-hal seperti ini. Dan penghasilan orangtua shouldn't be matter. It's none of our business. But... Can we really ignore it?

Semua itu pilihan kita, terserah kita mau minta sama ortu apa nggak. Iya, terserah.

Tapi.

Semua ini, pada akhirnya, balik lagi ke nurani kita masing-masing, sebagai anak yang menyayangi orangtua nya, bukan sebagai anak yang butuh kewajiban dari orangtua nya.

Apakah Kau Tidak Seharusnya Pulang Saat Kau Pulang?

Waktu di perantauan, kita dikasih uang sama orangtua buat menghidupi kita sehari-hari. Ntah banyak atau sedikit, pasti kita menghemat, rasanya sayang mau ngeluarin duit. Atau, mending belinya ntaran aja, pas udah pulang, minta orangtua beli.

Jadinya, kita pulang dengan daftar barang yang kita perlukan, dan biasanya kita balik ke perantauan lagi dengan barang-barang baru ya, ga sih.

Menurut saya sih, gak masalah punya pikiran seperti itu, sebab sumber penghasilan kita masih dari orang tua, which is terbatas, dan orang tua kita kan kerja. Wajar kalo kita minta sama orangtua, apalagi pas pulang kan emang gak dikasih uang jajan selayaknya waktu kita di perantauan.

But, yang jadi masalah... Kadang kebutuhan kita itu gila-gilaan. Misalnya, pulang tah pengen beli tas kamping, tas sekolah, beli baju, beli rok, beli jilbab, ganti laptop, beli headphone, beli parfum, ganti kaca mata, beli sepatu, beli ini itu. Terus karena mumpung di kampung, makan makanan yang cuma ada di kampung, yang di perantauan itu gaada atau mahal. Pake uang siapa? Jarang saya menemukan kita memakai uang sendiri, ya apalagi saya HAHA.

Ya emang sih, wajar, nama nya juga kalo lagi pulang. Tapi orang tua menginginkan kepulangan kita karena merindukan kita. Apakah justru kepulangan anak malah menambah beban orangtua kita?

Mungkin tidak masalah sih kalau orangtua kita berkecukupan. Tapi gimana kalo ternyata, diem-diem, orangtua kita lagi banyak pengeluaran? Gimana kalau ternyata orangtua kita sedang ada masalah di kantornya misalnya, jadi penghasilannya seret? Dan mereka gak mau memberitahu kita, karena buah hati mereka sedang pulang, sedang ingin hidup enak -sebab di perantauan mendet terus- ?

Apakah kita tidak seharusnya pulang ketika kita pulang?

Sebaiknya, sejak dini, apalagi sekarang kita udah kuliah, udah besar, udah dewasa. Tunjukkan lah pada orangtua kita bahwa kita tidak hanya sudah dewasa secara usia, tapi kita sudah mandiri. Tidak ada salahnya kita memakai uang tabungan kita untuk membeli barang-barang yang kita inginkan (sebab saya masih banyak menemukan teman kita yang medit sama uang tabungannya). Gak minta duit ke ortu itu salah satu bentuk tanggung jawab dan kasih sayang kita ke ortu. Ayo dari sekarang coba cari duit sendiri.

Buktikan kita bukan anak mama atau anak papa lagi yang bisa nya minta uang.

Bukannya bisa ngasih uang ke orangtua itu salah satu cita-cita semua anak?

Monday, July 10, 2017

Lipstik yang Paling Sering Gue Pake


Hola hola. Sebenernya aku bukan orang yang lipstick junky sih. Kemana-mana aja jarang pake lipstik, paling kalo lagi ada acara, itu pun kalo tebel dikit langsung kesurupan.

Tapi pas dihitung-hitung, ternyata lipstik gue banyak juga ya :/

1. Dear Darling Water Gel Tint
Kaya namanya. Ini jel. Tiap kali mau make harus disapu-sapuin dulu supaya gak kebanyakan jelnya. Aku sapuin bener-bener, sampe udah kering baru kupake, supaya gak merah banget n tebel banget.

Biasanya aku swatch dua-tiga kali sih (dengan jel sesedikit itu).


Btw mungkin kalian bingung, kenapa hasilnya warnanya gak seterang yang seharusnya ya? Iya soalnya aku kalo make ini suka nge-capin bibir dulu ke tangan, supaya warnanya gak tebel.


Different photo with different lighting, keliatannya kaya merah ya, ngga pink. Tapi ini nih kalo utk hasil yang tebel



Menurutku sih, kalo mau bibirnya keliatan kaya berwarna tapi natural mending pake liptint. Kalo pinter make nya, warnanya bakal tipis gitu lho, seolah kayak ini warna dari bibir. Apalagi pink ini, suka banget, pink yang hint merah gelap gitu.

Foto satu ini, aku iseng ngebersihin lipstiknya pake pembersih mustika ratu, ternyata gak hilang wkwk. Padahal di lipstik2 lain hilang lho.

Ini lipstik paling favorit gue, gue paling sering make ini. Longlast? Iya kayak hubunganku :P Juga ringan banget dipake kayak gak make apa-apa.

Sukak <3

2. Purbasari Lipstick Color Matte
Ini lipstik sejuta umat, semua orang punya ini. Harganya murah meriah, formulanya ringan. Saya pun ga nyangka merek ini yang notabenenya gak punya reputasi bagus-bagus amat tentang make up, ternyata hasilnya bagus banget. Well banyak yang mengira sama kayak saya, gak nyangka hasilnya bakal sebagus ini, matte banget, dan gak bikin garis-garis halus di bibir keliatan banget (kaya wardah matte lip cream)

Tapi diameternya terlalu kecil, jadi kalo make mesti dua-tiga kali swatch, tapi rapih sih.





Kalo foto yang pake jilbab merah ga keliatan ya, haha. Sorry for the bad lighting, tapi foto jilbab hitam jelas kan ya? See, natural, sukaaakk.

Warna ini juga warna paling favorit kayaknya, hampir semua orang punya purbasari yang warna ini. Warnanya bikin kita lebih dewasa gitu ASIKK, cocok buat berbagai occasion dan gaada kesan centil gitu kan.

Long last? Ya namanya kalo lipstik, memang gampang hilang, cuy. Kalo habis makan udah pasti hilang itu warna haha.

3. Pixy Lip Cream no.1 Chic Rose
Alhamdulillah lip cream ini gak bikin kulit bibir ngelupas kayak LT Pro (yang mehong ituu), bahkan lebih creamy daripada LT Pro. Murrraaahhhh cuyy. Sayang, warnanya terlalu sedikit, padahal sukak banget :(


Gatau kenapa di foto ini kok warnanya gak keliatan ya :( padahal aslinya lebih kereng kok. Nih foto lain aku make lip cream ini.

Maafkan muka ini wkwk, candid by bokap ceritanya.

Suka banget sama warna ini, dari dulu udah nyari warna pink hint ungu gelap, persis gini. Cuma ya gitu, walau pun warna bibir, ini gak bisa dipake daily. Warnanya cuma cocok kalo occasion yang menor, atau dandannya yang heboh. Dan warnanya intens sekali bro, kalo make mesti tipis-tipis supaya gak terlalu kereng.

Longlast? Lumayan, seharian masih ada. Tapi kalo makan, inner bibir hilang gitu, dan di outernya kayak udah antara ada dan tiada wkwk.

Semoga seri lipcream ini punya lebih banyak warna ya!

4. Eternally SM Lip Color no.57
Penasaran sama merknya yang gak pernah saya denger, coba-coba lah saya. Dan kebetulan nemu warna yang udah lama saya cari, peach gitu. Gatau formulanya yang berat atau memang dia di 'desain' kaya lip balm. Warnanya juga tebel banget *nulisnya sambil nyesal*, jadi ngaplikasiinnya cuma notol-notol trus diratain pake jari, itu pun kayak udah tebel banget huhu. Jadi biar lebih rapih aku tepuk-tepukin pake tisu sih.




Apakah long last? Sebagai lipstik lumayan sih, longlast nya kayak make lipbalm (apa karna ini dia terasa berat?), habis makan warna nya masih ada, walau antara ada dan tiada.

Be te we kemasannya menarik lho, kayak lipstik mainan, lipstik barbie gitu lho.


5.  Maybelline Baby Lips Candy Wow yang Blackberry
Iya tau, ini lip balm bukan lipstik, tapi warnanya intens banget kayak make lipglos. Biasanya aku make ini kalo cuma ke kos temen, makan di luar kos tapi masih di telkom (naon?), atau cuma belajar di kantin, ya ngerti lah ya. Kalo ke kampus sih aku gak make ini, kenapa? Terlalu glossy, men. Biasanya ke kampus aku cuma pake lipbalm maybelline yang pendek itu.




Lip balm yang panjang atau yang pendek sebenernya sama-sama bagus banget dalam melembabkan bibir, bedanya kalo yang panjang ini warnanya lebih intens dan lebih glossy. Aku sengaja milih warnanya yang gelap, soalnya waktu lagi beli buy 2 get 1 free, yang merah (cherry) gak ada *nangis bombay*. Kayaknya aku bakal beli yang cherry deh next time.

Longlast? Iya namanya juga lipbalm, dipake agak terasa berat, tapi ya gitu, yang terasa berat justru biasanya longlast. Iya, pengalaman soalnya. *Huehe*



Setelah dikena-kenain air, wkwk



Okelahhh itu dia review lipstik yang paling sering gue pake. Sebenernya ada enam sih, tapi yang satu lagi ketinggalan di Bandung (nulis ini skrg di Batam), mungkin bakalan di review di postingan review lipstik lainnya.

Makasih, semoga bermanfaat dan sampai jumpa cantiquue :*


Thursday, July 6, 2017

About Chasing Number // Menikmati Proses

About chasing number. Mungkin betul, indikator atau penilaian sesuatu itu dilihat dari angka. Tapi sebenarnya, apa yang lebih penting. Angka nya, atau proses mendapatkan angka tersebut?

Kalau kita bicara angka, misalnya ngejar nilai bagus gimana pun caranya, kita mungkin bakal ngelakuin semua hal, dan jadi butani. Kita bisa jadi nyontek, trus gak mau belajar sama temen, kalo udah ngerti gak mau ngajarin temen dan gak mau ngebagi ilmu, atau bahkan, hubungan pertemanan bisa rusak cuma gara-gara tubes.

Padahal, sekolah atau kuliah itu berarti menimba ilmu, dan esensi nya yaitu, struggling, sacrificing, togetherness, finding self, dan masih banyak lainnya. Kalau kita terlalu sibuk mengejar angka, ibarat itu cuma formalitas, cuma penanda.

Misalnya lagi, ada organisasi yang punya 5 proker, dan mereka mengejar angka. Jatuhnya ntar, asal prokernya udah terlaksana weh. Evaluasi tentang apakah it went well or didn't bisa jadi hal belakangan, asal udah terlaksana weh.

Saya selalu menargetkan diri saya akan suatu hal. Misalnya dalam setahun harus mengkhatamkan 20 judul buku. Ntah itu buku tebal atau tipis, ntah itu bacaan berat atau ringan. Jadinya, saya meninggalkan my current reading itu The Clash of Kings (karena tebel banget, terus hurufnya kecil-kecil dan banyak kata dalam satu halaman itu melebihi buku-buku biasa) dan membaca buku lain. Di sisi lain saya juga menargetkan diri untuk membaca majalah dan beberapa situs setiap hari. Ditambah kerjaan kuliah dan organisasi. Saya jadi keteteran dan ujung-ujungnya, tahun ini hanya ada beberapa buku yang berhasil saya khatamkan.

Seandainya saya mengkhatamkan 10 buku ringan dan tipis, apakah nilainya sama dengan 3 buku berat dan tebal? Atau bahkan 10 buku tadi tidak ada apa-apanya sama sekali? Saya gak tau.

Angka itu gaada yang mutlak, teman. Misalnya A yang belajar tentang bab 1, dan temannya, B, belajar bab 2. Dan ternyata yang keluar di ujian itu tentang bab 1. Apakah berarti B bodoh, karena tidak bisa menjawab soal di ujian tersebut?

Misalnya, pelajaran Bahasa Indonesia adalah mata kuliah yang dianggap paling mudah bagi kebanyakan murid, they're supposed to get high mark. Tapi guru Bahasa Indonesia di kelas A itu peliiit na'udzubillah ngasih nilai, dan di kelas B gurunya subhanallah baik banget. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia di kelas A jelek-jelek, dan di kelas B bagus-bagus. Berarti apakah murid-murid kelas A lebih bodoh?

Mungkin selama ini kita masih terbawa kebiasaan kita selama ini. Lebih mementingkan penampilan daripada isi. Lebih dulu menilai apa yang nampak, dibanding menghargai apa yang gak nampak.

Padahal.

Chasing number is about mengenal esensinya. Menikmati proses. Mencari pengalaman. Proses lah yang akan kita bawa kemana-mana. Proses lah yang membentuk karakter kita.

Capek woy kalo kita ngejer angka terus. Buat apa? Ujung-ujungnya kita akan meninggal. Kita tidak membawa angka itu sampai mati. Tapi proses dari mengejar angka itu lah yang membuat kita lebih be human dan gak meninggal sia-sia.

Ya sudah kalau udah begadangan belajar tapi nilai tetep jelek. Ya sudah kalau mati-matian demi dosen tapi ternyata dia emang dasarnya pelit nilai. Ya sudah kalau gak bisa mencapai target. Bukan kah sudah ada Allah yang mengatur segala-galanya dan mencukupi kita? Bukan kah pada akhirnya yang bisa manusia lakukan hanya ikhtiar dan tawakkal, dan hasilnya ada di tangan Allah?

Bukan kah jauh lebih baik kalau organisasi hanya punya 2-3 proker tapi itu W O W, daripada punya 10 yang asal kekerja weh?

Pada akhirnya, saya memilih menikmati buku bacaan saya, selow. Daripada baca buku ngebut-ngebut, asal ngerti weh, asal cepet selesai bacanya. Ketika saya terlalu mempush diri saya buat melakukan sekian banyak hal, pada akhirnya saya gak menikmati. Dan gak dapat esensinya.

So... Kesimpulannya...

Gaada angka yang mutlak. Berusaha lah mati-matian dan sekuat tenaga, seolah hasilnya terlihat jelas dan nyata di depan mata. Tapi jangan lupa pada akhirnya Allah lah yang menentukan hasil. Pada akhirnya, kita hanya perlu berproses dan mengenal esensinya.

Saya cinta kalian karena Allah. Tetap semangat!

Wednesday, July 5, 2017

I'm Not Pretty, or Even Attractive

Gue gak cantik. Muka gue kayak orang capek. Kayak orang ngantuk. Kering. Mataku mata panda, berkerut. Mukaku pucat, kuning, kusam. Di mataku ada bintik-bintik

Aku udah usaha sih supaya lebih cantik.

Aku beli bahan-bahan kecantikan, make perawatan ini itu.

Tapi mahal, terus ujung-ujungnya sering gak cocok.

Aku coba dandan.
Pake lipstik, pake pashmina yang jilbabnya di aneh-anehin, pake high hills, atau lain-lain dah. Tapi ujung-ujungnya, kalo aku dandan, minimal pake lipstik, suka gak pas, suka menor.
Aku coba pakai dandan n pake baju cantik-cantik lah. Tapi aku orangnya gak rapih. Gak bisa rapih. Jilbab suka gak rapih.

FUH!

Aku gak kayak adek atau abangku yang cantik, yang ganteng. Yang ngasal milih baju aja udah bagus. Menarik.

Dandananku literally selalu kayak mak-mak.

Kalo saya ngeliat video cara saya jalan atau ngeliat bahasa tubuh saya, atau denger suara saya ngomong, suka jiji sendiri. Kalau ngomong gak bisa pelan dan lembut. Saya nggak anggun, memalukan, menyedihkan.

Hah.

Kadang, sering lah. Iri gitu sama cewek-cewek lain yang selalu tampil menarik, gaya, modis, rapih, cantik, anggun, de el el. Aku juga pengen tampil menarik, minimal gak selengekan lah. Aku pengen juga gitu kalo di foto bisa gaya.

Ya bukan maksudnya pengen diliat sama cowok-cowok atau pengen ditaksir cowok, nggak juga.

Minimal gak memalukan dipandang.

Tapi ternyata...

Semakin saya memaksakan diri untuk lebih cantik, justru saya merasa semakin kehilangan diri saya, gitu. Semakin gak apa adanya, semakin lebih mementingkan appearance daripada isi. Saya jadi lebih banyak menghabiskan waktu untuk memantapkan fisik daripada isi. Saya jadi lebih sibuk melihat katalog make up dan fashion daripada katalog buku dan film.

Yang paling parah, ternyata diam-diam semakin membenci diri saya yang apa adanya.

Akhirnya berkontemplasi lah saya. Saya mengingat-ngingat kembali apa saja yang sudah saya punya, alias pemberian-pemberian yang Allah berikan kepada saya. Saya lupa kalo sebenernya saya itu gak jelek-jelek amat gitu. Saya lupa sama laki-laki yang sangat amat mencintai saya saat ini (dan saya cintai pula). Saya lupa bahwa ada banyak orang yang fisiknya jauh lebih 'tidak biasa-biasa' saja di bawah saya. Saya lupa, bahwa, gigi depan spasi, ada banyak bintik hitam di wajah, lingkaran hitam di bawah mata, pendek, tinggi, tomboy, feminim itu sebenernya tidak mempengaruhi penilaian orang terhadap kita. Hal-hal 'kecil' tadi sebenarnya tidak mempengaruhi orang yang jatuh cinta dan menyayangi kita.

Saya lupa bahwa, akan tetap ada orang yang jatuh cinta padamu, yang akan tetap menyayangimu dan ingin menjadi temanmu walau bagaimana pun. Walau pun kamu bau, berantakan, bandel, jelek, de el el,

Saya lupa bahwa orang-orang yang menyukaimu di saat-saat jelekmu itu adalah orang-orang yang lebih terpilih, lebih tidak sembarangan.

Dandan bukan masalah sama sekali, selama dandan itu masih wajar, sesuai umur dan situasi. Dandan itu sama sekali bukan masalah selama tidak berdandan tidak membuatmu merasa nista, jelek, dan memalukan. Ingin good-looking itu tidak masalah, selama kita tidak membuang-buang waktu hanya untuk memastikan looking kita good.

Betul kata orang. Yang terpenting itu cantik dari dalam, dari hati.

Yasudah, tidak masalah kalau kita tidak anggun, gak bisa ngomong lemah lembut, bawaannya selengekan, tomboy, berantakan, de el el. Well, that's you! And that what makes you to be you! Accept your self, forgive yourself. Percaya lah, kita selalu punya kelebihan lain yang bisa menutupi kekurangan kita.

Intinya kecantikan itu relatif, tidak ada standar cantik, dan cantik itu bukan hanya soal apa yang nampak.

And the last thing i want you to remember is put a smile on and wear confident on your face. Because you're awesome and don't let anyone tell you otherwise!

xoxo

Tuesday, July 4, 2017

Sebagai Penyuka Konten Berkualitas dan Bisa Membuat Kita Terlihat Lebih Pintar

Sebagai penyuka konten berkualitas dan yang bisa membuat saya terlihat lebih pintar. *Buset panjang banget ya judulnya* Saya suka galau.

Saya suka baca buku. Buku apa aja. Dari yang berat sampai yang ringan. Contohnya yang ringan, sebut saja Titik Nol, dan yang berat contohnya Madilog.

Saya suka nonton film. Film apa aja. Dari yang ringan sampai yang berat juga. Sebut saja, yang ringan misalnya Our Times, yang berat Incendies (gua nonton ini awal SMA bo').

Saya suka baca artikel. Kebanyakan yang saya baca emang agak berat. Saya rutin membaca Qureta, Selasar, atau Catatan Pinggir.

Konten-konten 'berat' di atas biasanya dinikmati sama orang-orang pintar, dan juga mereka dapet pinternya dari konten-konten itu. Tapi itu biasanya.

Sehingga, karena saya menyukai konten-konten di atas, saya mempunyai imej "pasti orang pinter juga". "Pasti wawasannya luas, pemikirannya dalem", dan fitnah-fitnah lainnya. Jadinya, saya kadang suka disuruh 'bertanggung jawab' karena menyukai konten berat dan bagus.

"Kamu kok kekanakan/ ga dewasa sih, padahal suka baca" "kamu kok ditanya isu gini doang gatau mau ngomong apa sih, katanya suka baca" "retorika kamu kok jelek sih, katanya suka baca, katanya suka nonton film berkualitas".

Hanya karena sesorang menyukai sesuatu, berarti dia harusnya begini begitu.

Tadi saya bilang, orang-orang biasanya dapet pinternya dari konten tersebut. Kebetulan, saya tidak, oh well, atau belum.

Contohnya, kemarin saya nonton film Arrival di ruang keluarga, di rumah. Bokap gak ikut nonton sih, tapi sesekali ngeliat. Dia bilang ini film ngebosenin banget ngomong mulu. Endingnya dia nanya, jadi ini film poinnya apa. Kebetulan, saya gak ngerti, jadi saya bilang lah sambil ketawa, gatau.

Dan disitu saya seperti melakukan sebuah dosa besar. Kok bisa nikmatin konten berkualitas dan bagus tapi gak ngerti isinya? Tapi gak nambah pinter?

Percaya atau tidak, banyak orang yang ngomong gini ke saya "I thought you were smart".

...

Dan akhirnya saya jadi merasa terbebani for not being what I'm supposed to be. Kadang, malah banyak, mereka yang 'cuma' (saya menulis kata 'cuma' tanpa sedikit pun bermaksud understimate) nonton FTV, nonton drakor, baca situs ecek-ecek, tapi ketika ditanya suatu masalah, lebih cerdas dan dewasa ketimbang saya, yang notabenenya, yang katanya, harusnya lebih pintar dan cerdas.

Saya terbebani.

Saya jadi malu sama diri saya sendiri. Malu sama orang.

Kayaknya saya mesti beralih ke konten yang lebih ringan atau yang lebih 'kekanakan' deh (saya menulis kata 'kekanakan' tanpa sedikit pun bermaksud underestimate), supaya gaada 'beban' dan 'demand' apa-apa.

...

Tapi gak bisa.

Saya suka. Itu selera saya. Dan ketika saya menyukai sesuatu bukan berarti saya harus begini begitu, bukan berarti saya harus kena bagusnya, kena pinternya.

Saya akui saya suka nonton The Daily Vinci Code waktu SD. Tapi apakah saya ngerti ceritanya? Nggak, tapi saya suka. Saya baca Madilog, atau suka baca Catatan Pinggir. Tapi apakah saya ngerti? Nggak juga! Saya sering gak ngerti! Tapi bodo amet, saya menikmatinya

Kalau saya gak ngerti, pasti saya bakal belajar lebih banyak lagi supaya ngerti. Saya bakal memutar ulang film Arrival, Interstellar, Coherence, sambil membaca review dan penjelasan film, dan sambil mencermati ulang. Sampai saya ngerti.

Apakah saya memaksa diri saya untuk jadi pintar dan dewasa dengan konten-konten di atas? Tidak. Saya hanya menikmatinya, enjoy.

Sebenernya masalah ini balik ke masalah manusia yang paling sering terjadi sih. Apa? Kebiasaan menggeneralisasi. Kebiasan kekeh dengan paradigma.

Jadi kesimpulannya apa? STOP bikin penikmat konten bagus jadi merasa bodoh. STOP bikin mereka ngerasa not as what they supposed to be.

...

...

Yaudalah udah jam 2 malem. Ngantuk. Gitu aja curhatan saya malam ini. Makasih lho udah baca misuh-misuh saya malam ini.

...

Toodles!

Wednesday, June 28, 2017

My Most Wish List Books! Part 3 (terakhir)

Yuyuyuu ini dia part teakhir daftar buku yang paling pingin saya baca. Suuungg...!

91. Randall Munroe : What If
92. George Orwell : Animal Farm
93. William Golding : The Lord of Fireflies
94. Leo Tosloy : Anna Karenina
95. Osamu Dasai : Ningen Shikkaku
96. Gao Xingjian : Gunung Jiwa
97. Sherlock Holmes
98. Agatha Christie
99. Natsume Soseki : Botchan
100. Pramoedya Ananta Noer : Gadis Pantai
101. Max Broox : World War Z
102. Franz Kafka : Metamorphosis
103. Sheil Silverstein : The Giving Tree
104. Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner : The Freakonomics.
105. Gonick
106. Curious Case of the Dog and In the Night Time
107. Stephen Covey : First Things First
108. Einstein's Biography
109. Stephen Covey : Principle Centered Leadership
110. Richard Dawkins : Blind Watchmaker
111. Brian Greene : Elegant Universe
112. Trefill : Integrated Science
113. Roger Lewin : Human Evolution
114. Joe Quirk : It's Not You, It's Biology
115. Larry Gonnick : Serial Kartun Peradaban
116. Robert Wright : Moral Animal
117. Robert Wright : Non Zero
118. Jonstein Gaarder : Dunia Sophie
119. AC Grayling
120. The Mind and the Market
121. Jerry Z. Muller : The Mind and the Market
122. Ken Wilber : Sex, Evolution, and Spirituality
123. Vincent Crony : The View From Planet Earth
124. Stephen Covey : 7 Habits of Highly Effective People
125. Ir. Soekarno : Di Balik Bendera Revolusi
126. Emha Ainun Nadjib
127. Agustinus Wibowo

Fuuhh, lelah juga nulis 127 nama penulis dan nama buku ya. Buku-buku diatas memang random dan terdiri dari macam-macam genre sebab saya memperoleh nama-nama diatas dari banyak rekomendasi. Tapi apakah memang hanya 127  itu? Tentu tidak, sesuai quotes yang saya lampirkan di awal, kita terlahir dengan daftar bacaan buku yang tak terhingga. Karena keterbatasan waktu, saya juga banyak membaca di situs online. Membaca dan belajar tak pernah selesai, karena itu...

Mari mulai membaca dari sekarang!

My Most Wish List Books! Part 2

Sung sung ini dia kelanjutannya.

44. Agus Haryo Sudarmojo, Ir : Benarkah Adam Manusia Pertama?
45. Goenawan Muhammad : Catatan Pinggir
46. John Coleman, Dr. : Committee 300
47. Karen Kelly : The Secret of the Secret
48. Michael Crichton : Next (dan buku2nya yang lain)
49. Noam Chomsky : How the World Works
50. Walid bin Said Bahakim : Orang-Orang yang Tak Suka Popularitas
51. William Blum : Demokrasi
52. Yoroshii Haryadi & Azaki Karni : The Untrue Power of Water
53. Sigmund Freud : The Interpretation of Dream
54. Kahlil Given : The Prophet
55. David J. Schwartz : The Magic of Thinking Big
56. Napoleon Hill : Think and Grow Rich
57. Dale Carnegie
58. Norman Vincent Peale
59. Anthony Robbins
60. Stephen R. Covey
61. Joseph Murphy
62. James Allen
63. J. K. Rowling : Sekuel Harry Potter
64. J. R. R. Tolkien : Sekuel The Lord of the Rings
65. George R. R. Martin : Sekuel The Game of Thrones
66. Stephen Hawking : The Brief of Time
67. Richard Dawkins : Selfish Gene
68. Carl Sagan : Cosmos
69. Jared Diamond : Guns, Germs, and Steel
70. Bill Bryson : A Short History of Brief Everything
71. Pramoedya Ananta Noer : Sekuel Bumi Manusia
72. Pramoedya Ananta Noer : Arus Balik
73. Soe Hok Gie : Catatan Seorang Demonstran
74. Y. B. Mangunwijaya : Burung-Burung Manyar
75. Ahmad Tohari : Ronggeng Dukuh Paruk
76. Harper Lee : To Kill a Mockingbird
77. Charles Dickens : A Tale of Two Cities
78. Emily Brontë : Wuthering Heights
79. Antoine de Saint : The Little Prince
80. George Orwell : 1984
81. J. D. Salinger : Catcher in the Rye
82. Fyodor Dostoevsky : Crime and Punishment
83. Oscar Wilde : The Picture of Dorian Gray
84. Charles Dickens : The Great Expectation
85. Nikolai Gogol : The Overcoat
86. John Steinback : of Mice and Men
87. Aldous Huxley : Brave New World
88. Albert Camus : The Plague
89. Kurt Vonnegut : Slaughterhourse
90. Emily Brontë : Jane Eyre

Tuesday, June 27, 2017

My Most Wishlist Books! Part 1

Kita lahir dengan daftar Buku yang takkan selesai

Hola hola. Ada banyak banget buku yang pingin banget saya baca, tentang berbagai hal. Agama Islam, filsafat, politik, konspirasi, psikologi, atau buku2 wisdom-able gitu. Tapi saya bingung mau mulai darimana, makanya, saya mengutip beberapa list buku 'terbaik versi blog tertentu', yang ternyata sangat sangat menarik semua dan bikin saya gak bisa tidur gara2 ngidam bangettt.

Daftar ini akan saya bagi secara acak dan ber-part part (maksudnya gimana ya ;D ) karena rasanya sesak kalau semua saya tulis dalam satu postingan.

Hmmm daripada saya ngoceh Makin lebar. Sung ini dia daftar buku yang paling saya idamkan!

1. Dietmar Rothermund : American the Great Depression
2. Irish Chang : The Rape of Nanking
3. Jhon L. Esposito : Unholy War
4. Kolaborasi : Cinta Tak Pernah Mati
5. Pleidoi Omar Dani : Tuhan, Pergunakan lah Hati, Pikiran, dan Tanganku
6. Robert Matthews : 25 Gagasan Besar (The Science that's​ Changing Our World)
7. Stephen Hawking : The Grand Design
8. Susan Wise Bauer : Sejarah Dunia Kuno
9. Windy Ariestanty : Life Traveler
10. Emile Durkheim : The Elementary Forms of the Religious Life
11. Charles Dickens : A Christmas Carol
12. Ernest Jones : Dunia Freud
13. Friedrich Nietzsche​ : Zarathustra
14. Gilang Pratama : Cuci Otak NII
15. Henry D. Aiken : Abad Ideologi
16. H. P. Blavatsky : The Key to Theosophy
17. Ian F. McNeely & Lisa Wolferton : Para Penjaga Ilmu Dari Alexandria Sampai Internet
18. John Farndon : 50 Gagasan Luar Biasa yang Mengubah Dunia (The World's Greatest Ideas)
19. Muhidin M. Dahlan, Mujib Hermani (ed.) : Pleidoi Sastra : Kontroversi Cerpen Langit Makin Mendung Kipandjikusmin
20. Peter Tompkin & Christopher Bird : Keajaiban Tumbuhan
21. Alexander George : Apa Kata Socrates?
22. Andrew C. Hitchcock : The Synagogue of Satan
23. Henry Makow : Illuminati : The Cult That Hijacked the Word
24. Norman Finkelstein : The Holocaust Industry
25. Ralph Epperson : The New World Order
26. A. Zulvan Kurniawan : Tipuan Bloomberg : Mengungkap Sosok Agen Industri Farmasi Di Balik Filantropi Kampanye Anti Rokok
27. Dawn Brown : Sekuel The Davinci Codes
28. Hyphatia Cneajna : Dracula
29. Malcolm Gladwell : Blink
30. Okta Pinanjaya & Waskito Giri S. : Muslihat Kapitalis Global : Selingkuh Industri Farmasi Dengan Perusahaan Rokok AS
31. Rhonda Byrne : The Secret (dan buku2nya yang lain)
32. Robert Kiyosaki : Rich Dad, Poor Dad
33. Scott Smith : Summer in Hell
34. Gary Allen : the Rockefeller's Files
35. Ita F. Nadia : Suara Perempuan Korban Tragedi '65
36. John Grisham : The Innocent Man
37. John Grisham : A Time to Kill
38. Joost Smiers & Marieke van Schijndel : Dunia Tanpa Hak Cipta
39. Kurniawan (et.al.) : Pengakuan Algojo 1965
40. Richard Dawkins : The God Delusion
41. Rizky Ridyasmara : The Codex
42. Stephany Josephine : The Freaky Tappy
43. Stephen King : Carrie

Friday, June 16, 2017

Tentang Pulang

Merantau. Disini konteksnya merantau kuliah, nyari ilmu, nyari IPK, mengembangkan diri. Keluarga kita udah ngelepas kita jauh, biayain kita kuliah, de el el. Berarti kita seharusnya dapat IPK bagus, supaya gak sia-sia orangtua udah capek-capek biayain kita. Buat apa kita jauh-jauh ngerantau, buang duit orang tua kalau kita gak ngasih hasil yang sesuai orangtua kita inginkan.

Tapi... Bagaiman kalau yang terjadi justru sebaliknya? Bagaimana kalau kita tidak dapat nilai bagus, apakah kita tidak seharusnya pulang? Sebenarnya apa yang seharusnya kita bawa saat pulang?

Pada akhirnya.

Rumah adalah tempat untuk pulang. Rumah hanyalah tempat kau kembali, sejauh apapun kau pergi meninggalkannya. Rumah hanyalah tempat kau pulang, ia tak pernah peduli sebejat atau sebaik apapun ketika kau pergi, sebab rumah hanya tempat kembali. Hanya pulang. Dan sesederahana itu. Rumah selalu menunggu kita kembali.

Bersiap-Siap Taraweeh


Prepare for the worst, hope for the best -anonymous
Ya kali setelah berbuka, tanpa persiapan apa-apa, langsung wudhu dan pergi ke masjid? Tarawih itu cuma sebulan dalam setahun lho, jadi, spesialkan dirimu! Caranya?

1. Bersiwak atau Gosok Gigi
Siwak adalah salah satu sunnah Rasulullah SAW. Sesuai Hadits yang dibawakan oleh Abu
Ayyub ra: “Ada empat hal yang termasuk dari sunnah para Rasul: Memakai minyak wangi, menikah, bersiwak dan malu” (Ahmad dan Tirmidzi). Hadist lain, “Andai saja tidak memberatkan UmmatKu, maka Akan aku perintahkan (wajibkan) memakai Siwak setiap hendak wudhu”.

2.  Pakai mukena atau baju paling bagus.
Ketemu presiden aja rapih-rapihin baju, pake parfum, walah persiapannya pasti rada rempong deh ya kan? Masa' mau ketemu yang punya bumi langit dan seisinya malah make seadanya? Allah menyukai sesuatu yang jamil (indah). Ya kan?

3. Pakai parfum terbaikmu

Asal makenya jangan kebanyakan aja sih, kalo makenya sesuai pasti sebelahmu jadi lebih nyaman dong. Lagian bukannya kalo repot-repot make parfum menunjukkan antusias kita untuk memulai tarawih ini? Untuk menghadap Allah swt?

4. Bawa Al-Qur'an Kecil

Karena seringkali kultum itu ngebosenin, kalau saya sih mendingan tadarusan aja sendiri, daripada ngantuk :3

5. Charge Gadgetsmu

Hah? Mau bawa gadget ke mesjid? Ngapain sih? Fokus ibadah saja, charge hapemu, jadi pulang ke rumah pun bisa main hape dengan aman tanpa lowbat lagi kan.

6. Pakai sendal jepit yang paling jelek.
Kenapa? Tau sendiri deh ahahaha :p

Menjaga Ramadhan Setelah Usai



Ramadhan sudah di penghujung nih L Sudah maksimalkah kita menghidupkan Ramadhan yang belum tentu bisa berjumpa lagi dengan kita tahun depan? Selepas Ramadhan, pastinya kita sedih, dan merindukan Ramadhan lagi. Namun, bagaimana agar satu bulan tadi tidak sia-sia dan bisa kita bawa nilai-nilainya untuk 11 bulan ke depan? Pertanyaan yang seharus kita jawab adalah ”Setelah Ramadlan berlalu, sudahkah kita menunaikan berbagai sebab yang akan mempermudah amalan kita di bulan Ramadlan diterima di sisi-Nya dan sudahkah kita bertekad untuk terus melanjutkan berbagai amalan ibadah yang telah kita galakkan di bulan Ramadlan?
 
1.      Tetap melakukan amalan yang biasa kita lakukan saat Ramadhan
“Diantara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah amalan buruk yang ada sesudahnya.” (Al Fawaa-id hal. 35)

”Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.” (Lathaaiful Ma’arif hal. 244).

Melanjutkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan Ramadlan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya.

2.      Mengingat amalan yang telah susah payah kita lakukan pada Ramadhan
Kalau setelah Ramadhan kita tidak punya perubahan lebih baik, patut dipertanyakan, apakah amalan sebulan kemarin benar-benar telah berdampak pada keimanan saya selepas Ramadhan? Apa gunanya saya lelah-lelah kemarin kalau hari ini kembali bodoh dan bermaksiat?

3.      Mencari lingkungan yang kondusif
Dengan lingkungan yang kondusif, maka kita akan terus bersemangat, saling menyemangati dan mengingatkan untuk terus beramal salih.

4.      Berpuasa Sunnah
Puasa sebagai tameng kita dari hawa nafsu. Maka dengan berpuasa lah, kita dapat menjaga diri kita.

Ramadhan maybe leaving, but don't let the lessons and positive changes leave from you!

Wednesday, June 14, 2017

12 Film Rekomendasi Spesial Ramadhan

Masih jam 4 nih, nanggung mau nyari ta'jil. Hmmm, ngapain ya? Pingin nonton film tapi takut gak aman? Nah, berikut sudah ada nih daftar film yang bernafaskan Islami. Disamping bersentuhan langsung dengan agama Islam (meski ya, ada pengecualian), beberapa kriteria yang turut ditetapkan dalam list menentukan film dibawah antara lain mengandung nilai-nilai kebajikan (ehem!), tidak dibumbui adegan yang membangkitkan birahi sampai ke puncak (waduh), serta mempunyai kandungan nutrisi mencukupi bagi otak sehingga kita tidak begitu saja menghempaskannya usai menontonnya melainkan turut diajak buat merenung, berpikir, sampai memunculkan keinginan untuk berbuat baik atau mempelajari agama secara mendalam.
 
1.      La Grand Voyage (Prancis, 2004)
Sesuai namanya, La Grand Voyage adalah film yang berasal dari Perancis. Film ini sejenis road movie, bercerita tentang seorang anak yang terpaksa mengantar ayahnya berhaji dengan perjalanan darat. Selama itu terjadilah perselisihan-perselisihan. Namun seiring perjalanan, hubungan dingin tersebut perlahan mencair, dan sang anak pun belajar banyak hal. Tentang perjalanan, kehidupan, agama Islam, dan ayahnya. Film yang  menghangatkan hati, mencerahkan, dan emosional.

2.      Mencari Hilal (Indonesia, 2015)
Kurang lebih cerita Mencari Hilal mirip dengan La Grand Voyage. Pak Mahmud adalah seorang yang taat dan alim, namun kaku sehingga sering membuat ‘gemas’ orang-orang disekitarnya. Suatu ketika ia merasa terusik ketika mendengar berita miliaran rupiah yang dikeluarkan pemerintah untuk sidang isbat. Pak Mahmud yang merupakan alumnus pesantren tahu benar untuk mencari hilal tak perlu pemborosan sebanyak itu. Hal ini lantas mendorongnya untuk mencari hilal, bersama anaknya, Helmi, yang terpaksa menemani ayahnya. Hubungan keduanya yang tampak asing, namun diam-diam tetap mendambakan kasih sayang ayah anak yang telah menghilang lama... 

Seperti La Grand Voyage pula, film ini bisa jadi membuat sapu tangan kita tanpa sadar basah, dan membuat kita sejenak merenung setelah film ini selesai. Apakah selama ini agama telah menjadi panutan hidup kita, atau sekadar sebagai pelengkap eksistensi dan identitas diri?
Tontonan yang jujur, bersahaja, hangat, indah, dan membuat kita ingin memberi pelukan hangat ke ayah kita. Definitely an instant classic!

3.      Children of Heaven (Iran, 1997)
Children of Heaven adalah film Iran pertama yang berhasil meraih nominasi Oscar, sekaligus film pertama yang memperkenalkan saya ke dunia perfilman Iran yang ternyata sarat akan agama dan nilai dari kehidupan sehari-sehari. Tentang seorang kakak yang berusaha mendapatkan sepatu untuk adiknya.
Plotnya setipis kertas. Namun, jangan pernah meremehkan Majid Majidi yang selalu berhasil membuat cerita sederhana menjadi... Ya, menyentuh, dan istimewa.
4.      Munafik (Malaysia, 2016)
Perfilman Malaysia biasanya sangat sarat dengan agama Islam. Dan Munafik adalah salah satu film horor paling fenomenal dari negeri Jiran ini. Iman Ustaz Imam goyah semenjak kecelakaan yang menimpa istrinya. Dan semenjak itu serentetan kejadian ganjil kerap menghampirinya, termasuk seorang gadis yang kerasukan. Demi memenangkan pertarungannya dengan setan, Imam harus menguatkan kembali imannya, dan mengikhlaskan kepergian istrinya.

Film ini tidak hanya membuat kita tidak nyaman di kursi kita menonton, atau membuat kita bergidik ngeri. Lebih dari itu, film horor ini mendorong kita untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha Satu, sekaligus mempertanyakan sejauh mana keimanan kita kepada Allah Azza wa Jalla.

5.      My Name Is Khan (India, 2010)
Khan adalah seorang pria India muslim yang melakukan perjalanan ke penjuru Amerika untuk menemui Presiden, demi menyampaikan sebuah pesan bahwa umat Muslim bukanlah teroris. Film ini memotret realitas yang terjadi di kalangan minoritas yang mengalami diskriminasi dan rasisme paska peristiwa 11 September.

Film ini akan menguras emosi kita, seraya menyampaikan pesan penting. Bahwa kebencian dan prasangka hanya akan membawa kerusakan, sementara cinta, kebaikan dan toleransi dapat mendatangkan kedamaian.

6.      PK (India, 2014)
Terlepas dari adegan mobil bergoyang (hahaha), film ini tak tanggung tanggung dengan ke-asoy gemboyannya menyinggung isu sosial yang sensitif, berani, lucu namun kristis. Film yang merupakan salah satu penampilan terbaik Amir Khan ini kerap membuat kita bertanya “dimana Tuhan bermukim?”, “mengapa ada banyak sekali agama jika hanya ada satu Tuhan?”, atau “apa ritualitas tertentu betul-betul dibutuhkan untuk berkomunikasi dengan Tuhan?”. 

Tentu, si pembuat film tidak bermaksud untuk menggoyahkan iman kita. Melainkan justru memberi kita kesempatan berkontemplasi yang boleh jadi bertujuan mengajak penonton mengenali lebih dalam ajaran agama masing-masing.

Terdengar berat? Apakah film ini akan membuat kita mengerutkan kening? Big No! Justru kita akan dibuat gemas, tertawa terpingkal-pingkal, tapi tidak lupa : kontemplasi tentang Ketuhanan kita

7.      Timbuktu (Prancis/Mauritania, 2014)
Kehidupan di Desa Timbuktu awalnya berjalan damai, sampai datang sekelompok ekstrimis yang membawa aturan-aturan yang menyengsarakan warganya dengan membawa nama Islam. Tanpa adegan dramatis, film yang jujur dan sederhana ini berhasil membuat saya menitikkan air mata dan terhenyak sepanjang film, bahkan... Terlalu emosional.

8.      The Songs of Sparrow (Iran, 2008)
Selepas dipecat dari pekerjaannya karena tidak sengaja melepas seekor burung unta dari kandangnya, seorang ayah dari tiga anak dihadapkan pada serentetan persoalan hidup yang rumit, menjengkelkan, sekaligus kocak. Majid Majidi yang menghadiahi kita dengan Children of Heaven (1997), mengemas film dengan pendekatan realistis sehingga mudah bagi penonton untuk terhubung dengan kisahnya. Salah satu komentar sosial yang diangkat oleh The Song of Sparrows adalah bagaimana sebuah kota besar dan gaya hidup modern mampu merubah seseorang secara drastis. Kocak pula menyentil!

9.      The Message (Lebanon/Inggris, 1976)
Memvisualisasikan sejarah Islam ke dalam bahasa gambar, The Message tergolong tontonan penting buat disimak karena tema usungannya amat sangat jarang dikupas. Film ini mencuplik peristiwa-peristiwa penting selama Nabi Muhammad menyebarkan ajaran Islam, termasuk Hijrah ke Madinah, Perang Badar, dan Perang Uhud, menggunakan sudut pandang penceritaan dari Paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, lalu sahabat-sahabat Nabi yang lain seperti Bilal dan Zaid, serta pemimpin utama Bani Quraisy yang mula-mula menentang Nabi namun belakangan memeluk Islam, Abu Sufyan.

10.  Wadjda (Arab Saudi, 2012)
Wadjda bercerita tentang seorang perempuan berusia 11 tahun yang ‘bandel’ dan ingin memiliki sepeda. Namun mengingat mengendarai sepeda bagi wanita adalah ilegal, Wadjda tidak pantang menyerah meraih impiannya.

Film Arab pertama yang dibuat oleh sutradara perempuan ini memberikan kita kesempatan untuk menilik budaya Arab dan kehidupan wanita dibalik ‘ketertutupan’ mereka. Wadjda adalah sebuah sajian menarik, menggelitik, serta membuka pikiran.

11.  Perempuan Berkalung Sorban (Indonesia, 2009)
Bercerita tentang Anisa, seorang perempuan yang ingin menerobos hal-hal diluar tradisi konservatif di pondok pesantrennya. Perempuan Berkalung Sorban termasuk sedikit diantara banyak film yang berani mengkritik keboborokan pendidikan Islam di zaman sekarang.

12.  A Separation (Iran, 2011)
A Separation bercerita tentang suami istri yang hendak bercerai. Film Iran yang satu ini memang bukan film agama, tapi konten di dalamnya banyak menyinggung tentang agama, walaupun tidak menjadikannya materi pokok. Lihat saja betapa taatnya sang pembantu seperti yang digambarkan di dalam film.

Selamat menonton!