Saturday, April 22, 2017

Tentang Mencintai

Kira-kira udah setahun lebih saya melihara hamster. Awalnya cuma 3, trus ada yang hilang, ada yang mati, trus beli lagi deh yang baru. Hamster saya yang cewek pernah berapa kali hamil, tapi anaknya dimakan terus ;(. Dan sekali dia hamil n anaknya gak dimakan, bayi-bayi itu pun tumbuh gede... Dan sekarang... Over populasi XD

Sebenarnya saya pingin punya peliharaan, karena... Oh well, mungkin alasan ini terdengar gak masuk akal. Saya butuh sesuatu untuk saya sayangi dan saya jaga.

Serius, itu alasan saya pengen melihara sesuatu. Semenjak punya hamster rasanya hidup saya jadi lebih bermakna *HAHA*. Sepulang sekolah saya langsung ngeliat mereka, ngecek, nyiapin makan, ajak main mereka. Tiap semingggu sekali saya ngebersihin kandang, de el el. Rasanya cuma pengen bikin mereka bahagia ;D

Semenjak punya hamster banyak hal yang saya renungi. Saya lelah-lelah ngurusin mereka yang gak punya perasaan, well i dont know whether hamster can love or not. Saya capek-capek menyayangi mereka, padahal mereka bisa jadi gak akan sayang juga sama saya. Hamster itu kecil, dan gampang hilang. Beda sama kucing. Kucing masih bisa menyayangi pemiliknya. Dia gede, gak bakalan gampang hilang kalau cuma di rumah. Kadang saya pengen baring-baring sambil baca buku, sambil itu hamster ada di badan saya, ya kayak sambil mangku kucing lah gitu. Tapi kan hamster gak bisa digituin -_-

Akhirnya saya kepikiran... Sebenernya apa alasan kita menyayangi sesuatu?

Apakah harus ada alasan untuk menyayangi sesuatu atau seseorang?

Ada yang namanya kriteria, misalnya kriteria pacar idaman / pacar yang baik lah. Mungkin salah satu-duanya yaitu ganteng, berduit. Tapi apakah ganteng dan berduit bisa membuat kita menyangi dia?

Saya mencintai seseorang. Dia... Sebenernya jauh dari kata idaman sih. Jelek, pendek, hitam. Nggak berduit. Well, belum. ;D Di saat yang sama di sekitar saya banyak cowok-cowok keren. Ketua ini lah, ketua itu, juara sana sini, jago apalah apalah.

Tapi apakah kita perlu memiliki suatu pride terhadap sesuatu yang kita sayangi? Sebab i can't see anything to be proud of... Kecuali kasih sayang yang saya dapat dari dia.

Lalu apakah kita memerlukan feedback dari menyayangi? Seperti disayangi balik, atau yang lainnya? Selama saya memelihara hamster, saya gak pernah mengharapkan balasan apapun. Saya senang memiliki mereka, dan saya bertanggung jawab atas 'rasa menyayangi' ini.

Pada akhirnya, menyayangi, mencintai, memang hal absurd dan susah dijelaskan...

Sunday, April 16, 2017

When A Teenage Talks Abot Sex // Remaja Bicara Soal Seks

Perihal sinetron turki yang bikin saya berfikir jauh ke depan demi kepentingan umat. Ableh

Problem of Typical of Me!

Aku orang nya ambisius, well said. Rasanya selalu ingin mencapai sesuatu dan membuat jejak.

Tapi manusia pada akhirnya akan meninggal, dan meninggalkan semua itu.

Pada akhirnya, yang perlu dilakukan manusia hanya lah berusaha menjadi lebih baik.

Tapi.

Sial.

Aku gak bisa diem!
Kita punya konteks.
Berbicara lah sesuai konteks.
Ada banyak cabang ilmu di dunia ini, tak terbatas!

Maka berbicaralah,

Sesuai konteks!

Tuesday, April 11, 2017

Sekeping dari Sayang // Menyayangi Butuh Energi



Menyayangi memang butuh energi. Menyayangi dan mencintai adalah tanggung jawab, menurut saya. Sebab Tuhan memberikan kita perasaan tersebut untuk menjaga kita, dan untuk membuat kita mencari diri kita lagi, karena kadang ketika kita jatuh cinta, kita seolah tak mengenal diri kita sendiri.

Menyayangi punya banyak konsekuensi. Rasa ingin menjaga, memiliki, dan lain-lain, yang kadang sebenarnya membebani. Tapi menyayangi adalah sebuah tanggung jawab.
Menyayangi bukan menyayangi ketika kita tak melakukan apa-apa. Kadang ya, capek memang memenuhi rasa ‘ingin menjaga’, atau menyikapi rasa kangen, atau capek karena membawa emosi dalam setiap interaksi, atau mungkin capek karena tersakiti. Ya, tersakiti itu salah satu konsekuensi dari menyayangi.

Tapi menyayangi memang butuh energi. Sebab kau butuh bergerak. Kau tak bisa diam untuk menyayangi seseorang. Doa adalah hal yang setidaknya kita punya.

Dari sekian juta orang, hanya segelintir dan segelintirnya lagi terdapat orang-orang yang kita cintai. Artinya mereka terpilih. Karena itu, jangan pernah bermain-main soal perasaan. Total lah, kerahkan tenagamu. Mereka, orang-orang yang kau jatuh cinta, yang kau pilih untuk kau sayangi tak pernah kebetulan.

Rangkul! Jaga!

Catatan tengah malem sebelum tidur sehabis ada temen yang lagi badmood n left grup mulu.

Saturday, April 8, 2017

Makan Wafer Pakai Saos Tomat // Pentingnya Beradaptasi dan Caranya

artikel di bawah ini sebenernya saya bikin buat memenuhi kewajiban saya bikin konten di LDK Al-Fath FEB kampus saya. Harusnya Islami sih, tapi kok gak ada islami nya sama sekali ya. Saya pun bingung, tapi yaudalah


(baca bismillah dan siapkan diri anda sebelum baca artikel yang tidak berfaedah dan ga jelas ini, sebelum baca artikel ini, siapkan nomor telepon darurat kalau terjadi apa-apa ya. Penulis takut kalau anda opname selesai membacanya.)

Setiap lingkungan memiliki ciri khas, atau ‘jiwa’ nya masing-masing. Ketika berada diantara teman-teman dakwah, mungkin kita akan berbicara lebih lembut. Ketika bersama mereka, mungkin tempat main kita tidak jauh-jauh dari Warung Bu Yuni, atau Warung Tegal. Itu lho, yang di depan MSU, satunya lagi yang deket jembatan PGA. Hits murah meriah, bukan? Tapi ketika berada diantara teman-teman organisasi lain, yang notabene nya lebih ‘gaul’, kita bisa jadi mengikuti alur mereka. Kita berbicara lebih ‘gaul’, kita jalan-jalan dengan mereka sampai ke punclut, atau pangandaran (?). Bisa jadi, teman-teman kita ada yang masih bicara kasar seperti ‘anjar’, ‘bege’, atau ‘belegag’, atau bahkan ada yang ngerokok terang-terangan di depan kita. Bisa jadi, kita punya dua kepribadian berbeda berdasarkan lingkungan kita bergaul. Buset serem amat dua kepribadian.


Apakah salah? Apakah kita bermuka dua? Apakah kita menjadi orang yang lain lagi di lingkungan yang lain?
Pada akhirnya, mahluk hidup memang dituntut beradaptasi untuk bisa bertahan hidup. Cicak memutuskan ekornya saat merasa terancam. Bunglon mengubah warna kulitnya untuk mengelabui musuh. Ya, kita harus mengubah warna kulit kita untuk beradaptasi.

Garing ya? Maaf ya.

Begini contohnya. Kita bisa jadi setiap awal bulan makan di Podomoro. Nasi ayam, dua kulit, plus satu jus jambu. Tapi ketika akhir bulan, duit di dompet mulai menipis. Apa kita akan tetap makan menu yang sama di Podomoro? Saya yakin tidak, sebab pasti kita bakal menyesuaikannya dengan keadaan keuangan kita. Ya cukuplah beli nasi dan tiga tempe di kantin FEB, terus sisain satu tempe buat makan malam, nasi minta aja sama temen.

Kenapa? Karena jika kita memaksakan tetap membeli makan di tempat yang mahal, uang kita akan habis, dan kita mungkin tidak bisa makan lagi ke depannya. Apakah kita sok merendah dengan makan hanya nasi tempe? Tidak! Kita beradaptasi.

Beradaptasi adalah suatu kebutuhan, sebab kita tidak akan berada di lingkungan yang kondusif terus. Beradaptasi bukan berarti kita bermuka dua, bukan berarti kita menjadi orang lain. Masuk lah ke lingkungan mana pun, karena kita sebagai manusia memang diciptakan untuk bersosial, bergerak dan melihat dunia. Be into it. Tidak salah berteman dengan mereka yang lebih ‘gaul’, selama kita tidak ikut-ikutan kebiasaan buruk mereka. Justru, siapa tau, bukan kah disitu lah ladang kita untuk berdakwah, merangkul mereka?

Bagaimana caranya menyesuaikan diri dalam lingkungan orang ‘gaul’ ?

1.       Pahami Karakter Mereka. Tidak semua orang mempunyai karakter lembut, ada juga yang rada sensi, tentu kita harus tau dulu bagaimana karakter mereka supaya kita tau bagaimana harus bersikap terhadap lingkungan tersebut.

2.       Bertahan lah. Hold on. Be Strong. Mungkin awalnya kita merasa harshed di lingkungan tersebut, mungkin kita merasa lingkungan tersebut keras. Bertahan lah sebentar, biasakan diri. Fase ini normal kok!

3.       Husnudzon. Siapa tau, mereka ‘keras’ atau ‘terlalu gaul’ karena apa ya, misalnya belum pernah makan di Warung Bu Yuni, makanya mereka selalu makan di KFC atau Upnormal. Siapa tau mereka sering bicara kasar karena mereka gak punya kipas, jadi kepanasan, kesal, dan jadi kasar.

4.       Menyeleksi Kebiasaan Buruk Mereka, kemudian tiru yang baik-baiknya. Dengan kita mengikuti kebiasaan mereka (setelah difilter), kita akan lebih mudah masuk ke dalam lingkungan mereka. Misalnya? Sesekali ikutan nongkrong bareng mereka. Toh nongkrong tidak melulu berarti wasting time, justru nongkrong bisa memperdekat hubungan kita. Iya kita, jadi sebenernya hubungan kita itu apa? L Saat nongkrong kita bisa sharing, dan menyelaraskan persepsi, dan jadi lebih deket deh. Lebih dekat, lebih bersahabat kan? Asik.

5.       Mulai rangkul. Ketika kita sudah menyamakan persepsi, saling tahu dan rasa sayang dalam pertemanan sudah tertanam, maka selanjutnya kita bisa merangkulnya, dan menjalankan tugas kita sebagai pendakwah. Mengajak mereka untuk bersama-sama belajar lebih baik. Unch.

Kesimpulannya, sahabat, jangan takut untuk bergaul dengan siapa pun dan masuk ke lingkungan seperti apapun. Tetaplah jadi diri sendiri dan beradaptasi lah. Ganti warna kulitmu, dan coba makan di Warung Tegal depan MSU.

 

Tuesday, April 4, 2017

What Outcome I Expect To Get?

Temen-temen, saya mau curhat.

What outcome I expect to get? What am I after? Who do i want to be?

Ketika kita sudah punya cita-cita, atau lebih tepatnya pekerjaan impian, biasanya sejak mulai perkuliahan kita menyiapkan step-step untuk mencapai pekerjaan impian tersebut. Misal, saya bercita-cita bekerja di multi national company bidang marketing atau business analyst atau apalah. Maka untuk mencapainya, selain IPK tinggi –dan mungkin TOEFL/IELTS  juga-, semasa kuliah saya harus harus sering mengikuti lomba di bidang marketing seperti debat, business plan, business case, atau membuat PKM, atau apalah yang lainnya, saya harus menjadi aslab atau asdos, atau apalah yang mempresent bahwa kita berpengalaman, punya skill, berprestasi dan menguasai sedikit banyak lah di bidang itu.

Sekarang ini saya kuliah manajemen. Nama alaynya, manajemen bisnis telekomunikasi dan informatika, di Telkom University. Alasan pertama saya kuliah manajemen sebenernya mau menghindari hitung-hitungan :3. Terus saya merasa saya punya skill lah dikit dikit me-manage, meng-organize, atau mem-plan sesuatu.
Tapi sebenernya, saya gak suka bisnis. Serius. Saya gak suka bisnis, karena saya ngerasa jualan produk itu capek, n saya mageran orangnya.

Jadi saya ngerasa saya gak mendalami bidang saya gitu, bidang manajemen bisnis (singkat saja manbis). Kalo ada orang nanya soal manajemen, marketing, bisnis atau seputar itu, saya gak pernah bisa jawab. Saya gak tau apa-apa, walau mungkin nilai mata kuliah Manajemen Bisnis dapet A gitu (tapi nggak A sih wkwk). Terus tah, hendaknya kan kalau kita mau ikut lomba, konferensi atau gitu-gitu tuh di bidang kita, gitu ya. Saya udah coba ikut lomba business plan,business case, bikin produk, gitu-gitu. Tapi as time gone by, saya ngerasa gak pinter-pinter gitu. Saya coba baca buku tentang manbis, baca berita tentang manbis, tapi saya ngerasa gak nambah pinter. Saya masih gak tau kalo ditanya apa-apa seputar manbis. Dan, fakta lainnya, lately saya menyadari ternyata saya gak berhasrat untuk memperdalam bidang saya sendiri!

Buat saya, selama saya bisa ngikutin pelajaran di kuliah dan gak remed, itu udah cukup gitu. Diam-diam, dari situ saya merasa sedih.

Terus, ternyata, kegiatan-kegiatan yang saya ikuti gak ada yang nyambung sama bidang manbis. Saya ikut lomba nya apa coba? Lomba speech, lomba essay (yang kebanyakan tema nya tentang leadership dan isu-isu umum lah). Saya ikut volunteer mengajar, pengembangan kreatifitas di desa, revitalisasi sungai yang sering banjir, atau kegiatan sosial lainnya yang gak nyambung sama manbis.

Dan setiap kali saya aktif disitu, saya jadi mikir. Apakah ini akan membantu saya mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang saya nantinya? Apakah ini akan menambah competitive advantage saya di lapangan pekerjaan saya nantinya? Apakah kegiatan ini cocok untuk mempercantik CV saya?
Gini, oke lah saya ikut organisasi apa, saya jadi volunteer di ini itu, kegiatan sosial dan lomba lainnya. Tapi IPK saya gak bagus! Sedangkan IPK itu hal primer! Terus bagaimana pengalaman ini akan membantu saya nantinya? Bagaimana pengalaman ini akan mempermudah saya mendapat beasiswa?

Saya mau jadi siapa nanti? Apakah saya akan jadi orang yang menguasai manbis? Atau, justru, saya akan jadi orang lain? Kemana pengalaman dan minat saya akan bermuara? Saya mau cari apa disini?

What outcome that i expected?

Pertanyaan paling krusial dan inti, apa yang harus saya lakukan?

INTINYA, SAUDARA, TERNYATA MINAT DAN PENGALAMAN SAYA GAK SESUAI SAMA BIDANG SAYA. SAYA GAK YAKIN PENGALAMAN INI AKAN MEMBANTU SAYA UNTUK DAPAT BEASISWA DAN PEKERJAAN YANG SESUAI NANTINYA.
...
...
Ya, saya memang salah jurusan.

Monday, April 3, 2017

Ideal Role Model? // Sosok Panutan yang Ideal

Adakah seseorang yang anda kagumi? Yang anda contohi dan anda ikuti? Siapakah mereka? Apa mereka yang mempunyai mempunyai prestasi akademik, non akademik? Mereka yang mampu memimpin dan mempengaruhi banyak orang di sekitarnya? Atau mereka yang berkontribusi besar bagi sesama nya?

Apakah mereka adalah keluarga anda sendiri? Ayah, ibu?

Siapa pun jawaban anda, maka mereka lah role model anda. Singkatnya, role model adalah "someone to look up", "someone who you want to be", "someone inspires you", dan lainnya. Kita bisa jadi mengikuti apa saja tentang dia. Gaya hidup, cara bicara, cara berpakaian, cara berfikir, buku yang dibaca, bahkan idealisme mereka. Yap, admiring role model can be that far.

Apa pentingnya mempunyai role model?
1. Sebagai indikator keberhasilan kita
2. Mempunyai role model provides us the pathway atau cara, atau pengarah action to achieve keberhasilan, self development, atau kualitas diri yang lebih baik lah gitu.
3. Sebagai pemotivasi
4. Membentuk karakter diri dengan mengikuti kebiasaan-kebiasaan positif mereka

Role model bisa dibilang merupakan 'standar' pribadi yang ideal. Bisa jadi kita merasa pribadi kita belum ideal apabila belum sama dengan standar-standar that can approach things about that role model. Misalnya, role model kita sering menjuarai 3 bidang perlombaan yang berbeda ; olahraga, olimpiade dan debat ekonomi, dan tilawatil Qur'an. Kita (okelah, saya aja), saya menganggap, oh saya harus menguasai tiga bidang juga karena itulah indikator saya berprestasi, so i have to push my self, but in fact saya hanya mampu menguasai dua bidang. Berarti saya bodoh! Tidak ideal, tidak berprestasi, got no self esteem, dan lain-lain.

Yes, this is the problem. We often forget that : we need role that reminds us of what being a human. We often see them perfect and we as the imperfect, we see their perfection and our imperfection. Kita sering mem-push diri kita menjadi mereka, instead we're losing our own character dan tidak menerima diri kita apa adanya.

Role model yang kita pilih, atau kita temukan bisa jadi memang sangat berbeda dengan kondisi kita, berdasarkan apa yang mereka punya and what they've been through. So, here, i would like to highlight betapa pentingnya menyesuaikan role model kita dengan kondisi kita sendiri.

A lot of suffering comes from our obsessive focus on outcomes, we spent a huge amount of of our lives trying to make the world match the picture we have in our mind and so often it doesn't match (Ted).

Jadi, bagaimana kah role model yang ideal itu?
1. Role model tersebut struggle permasalahan yang at least mirip dengan permasalahan yang kita hadapi, jadi kita bisa mengambil hikmah lah dari perjuangan mereka, adopt and implement it ;)
2. you can look for the people who achieved similar results as the ones you are going after.Role model tersebut achieve similiar results as the one we are going after.
3. Role model tersebut dapat terus memotivasi dan uplift kita, melalui cerita pengalaman mereka yang fascinating lah gitu.

My point is that you have to know first of all what are you after, and in what aspect do you need empowerment, guidance, direction, inspiration. After that you can more easily find your role models.

Intinya, pertama-tama kita harus mengenali diri kita terlebih dahulu, sahabat. What we are going after, what outcome yang kita harapkan, what kind of person and who do you want to be, dan in what aspect do we need empowerment, bimbingan, arahan, inspirasi, dan lain lain. I would say begitu lah cara menyesuaikan adopting role model values to our condition.

How Politic and Election Influence Student and Education?


Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Dari sudut pandang berbeda, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan dan tujuan bersama (teori klasik Aristoteles).

Salah satu cara menjalankan politik adalah dengan memilih perwakilan suatu komunitas tersebut yang akan memimpin usaha untuk tercapainya tujuan bersama tersebut. Dan begitu pemimpin tersebut terpilih, maka ia akan segera menjalankan usaha untuk mencapai tujuannya tersebut.

Di sisi lain, pendidikan adalah satu bagian penting lain yang tidak terlepaskan dari kehidupan kita, karena merupakan cara untuk mencapai cita-cita negara yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan menentukan bagaimana pola pikir dan karakter suatu masyarakat, dan pendidikan menentukan orientasi politik masyarakat dan bagaimana mereka akan menjalankannya.

Ya, politik dan pendidikan memang tidak bisa dipisahkan sepenuhnya. Kedua hal ini saling menunjang. Pendidikan delivers to how politic is created, dan politik berpengaruh terhadap terciptanya dan jalannya sistem pendidikan. 

Karena itulah, mereka yang berkepentingan dan mempunyai capability akan memanfaatkan pendidikan sebagai salah satu cara mereka mencapai tujuan politik mereka. Melalui pemilihan, it will give direct impact. Bagaimana? Mereka bisa membuat UU dan automatically mampu meng-alter, renew, membuat regulasi-regulasi dalam pendidikan sesuai arah kepentingannya, alias pendidikan sebagai salah satu media sosialisasi politik berupa doktrin. Mereka akan menginsepsi ideologi dan tujuan mereka ke dalam kurikulum, materi ajar, buku-buku, dan lainnya sehingga pengetahuan yang pelajar dapatkan akan mengarah kepada idealisme politisi tersebut.

Apakah buruk? Tergantung siapa pemimpin yang kita pilih dan selama ideologi yang disampaikan sesuai dengan ideologi dan falsafah negara. Pemimpin yang menggunakan politik agar mencapai tujuan yang berkaitan dengan kepentingan dan hajat hidup orang banyak, akan bisa memberikan kontribusi besar bagi tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,

Namun sepatutnya pendidikan menjadi netral tanpa intervensi dari siapa pun, sebab melihat kondisi dunia politik saat ini khususnya di Indonesia, sangat rentan terjadi intervensi dan keberpihakan, sehingga isi kurikulum pendidikan sangat mungkin menjadi subjektif. Apabila lembaga pendidikan sudah dicampur adukkan dengan kepentingan politik , maka kemurnian ilmu pengetahuan dan nilai-nilai pendidikan akan tercemari.