Thursday, July 6, 2017

About Chasing Number // Menikmati Proses

About chasing number. Mungkin betul, indikator atau penilaian sesuatu itu dilihat dari angka. Tapi sebenarnya, apa yang lebih penting. Angka nya, atau proses mendapatkan angka tersebut?

Kalau kita bicara angka, misalnya ngejar nilai bagus gimana pun caranya, kita mungkin bakal ngelakuin semua hal, dan jadi butani. Kita bisa jadi nyontek, trus gak mau belajar sama temen, kalo udah ngerti gak mau ngajarin temen dan gak mau ngebagi ilmu, atau bahkan, hubungan pertemanan bisa rusak cuma gara-gara tubes.

Padahal, sekolah atau kuliah itu berarti menimba ilmu, dan esensi nya yaitu, struggling, sacrificing, togetherness, finding self, dan masih banyak lainnya. Kalau kita terlalu sibuk mengejar angka, ibarat itu cuma formalitas, cuma penanda.

Misalnya lagi, ada organisasi yang punya 5 proker, dan mereka mengejar angka. Jatuhnya ntar, asal prokernya udah terlaksana weh. Evaluasi tentang apakah it went well or didn't bisa jadi hal belakangan, asal udah terlaksana weh.

Saya selalu menargetkan diri saya akan suatu hal. Misalnya dalam setahun harus mengkhatamkan 20 judul buku. Ntah itu buku tebal atau tipis, ntah itu bacaan berat atau ringan. Jadinya, saya meninggalkan my current reading itu The Clash of Kings (karena tebel banget, terus hurufnya kecil-kecil dan banyak kata dalam satu halaman itu melebihi buku-buku biasa) dan membaca buku lain. Di sisi lain saya juga menargetkan diri untuk membaca majalah dan beberapa situs setiap hari. Ditambah kerjaan kuliah dan organisasi. Saya jadi keteteran dan ujung-ujungnya, tahun ini hanya ada beberapa buku yang berhasil saya khatamkan.

Seandainya saya mengkhatamkan 10 buku ringan dan tipis, apakah nilainya sama dengan 3 buku berat dan tebal? Atau bahkan 10 buku tadi tidak ada apa-apanya sama sekali? Saya gak tau.

Angka itu gaada yang mutlak, teman. Misalnya A yang belajar tentang bab 1, dan temannya, B, belajar bab 2. Dan ternyata yang keluar di ujian itu tentang bab 1. Apakah berarti B bodoh, karena tidak bisa menjawab soal di ujian tersebut?

Misalnya, pelajaran Bahasa Indonesia adalah mata kuliah yang dianggap paling mudah bagi kebanyakan murid, they're supposed to get high mark. Tapi guru Bahasa Indonesia di kelas A itu peliiit na'udzubillah ngasih nilai, dan di kelas B gurunya subhanallah baik banget. Rata-rata nilai Bahasa Indonesia di kelas A jelek-jelek, dan di kelas B bagus-bagus. Berarti apakah murid-murid kelas A lebih bodoh?

Mungkin selama ini kita masih terbawa kebiasaan kita selama ini. Lebih mementingkan penampilan daripada isi. Lebih dulu menilai apa yang nampak, dibanding menghargai apa yang gak nampak.

Padahal.

Chasing number is about mengenal esensinya. Menikmati proses. Mencari pengalaman. Proses lah yang akan kita bawa kemana-mana. Proses lah yang membentuk karakter kita.

Capek woy kalo kita ngejer angka terus. Buat apa? Ujung-ujungnya kita akan meninggal. Kita tidak membawa angka itu sampai mati. Tapi proses dari mengejar angka itu lah yang membuat kita lebih be human dan gak meninggal sia-sia.

Ya sudah kalau udah begadangan belajar tapi nilai tetep jelek. Ya sudah kalau mati-matian demi dosen tapi ternyata dia emang dasarnya pelit nilai. Ya sudah kalau gak bisa mencapai target. Bukan kah sudah ada Allah yang mengatur segala-galanya dan mencukupi kita? Bukan kah pada akhirnya yang bisa manusia lakukan hanya ikhtiar dan tawakkal, dan hasilnya ada di tangan Allah?

Bukan kah jauh lebih baik kalau organisasi hanya punya 2-3 proker tapi itu W O W, daripada punya 10 yang asal kekerja weh?

Pada akhirnya, saya memilih menikmati buku bacaan saya, selow. Daripada baca buku ngebut-ngebut, asal ngerti weh, asal cepet selesai bacanya. Ketika saya terlalu mempush diri saya buat melakukan sekian banyak hal, pada akhirnya saya gak menikmati. Dan gak dapat esensinya.

So... Kesimpulannya...

Gaada angka yang mutlak. Berusaha lah mati-matian dan sekuat tenaga, seolah hasilnya terlihat jelas dan nyata di depan mata. Tapi jangan lupa pada akhirnya Allah lah yang menentukan hasil. Pada akhirnya, kita hanya perlu berproses dan mengenal esensinya.

Saya cinta kalian karena Allah. Tetap semangat!

No comments:

Post a Comment