Friday, July 14, 2017

Lelah Membenci Diri Sendiri

Saya orangnya ambisius, and everybody knows that. Tapi konyolnya, saya itu ceroboh dan sebenernya males.

Saya kerap membuat target yang tinggi untuk diri saya. Saya banyak mengikuti kegiatan, banyak melakukan ini dan itu, supaya saya bisa jadi orang yang lebih baik, lebih pinter, lebih dewasa, lebih ini itu. Well at least, i thought i'd be more bla bla bla by doing this, by doing that, by doing bla bla bla.

Misalnya, saya membuat banyak target yang harus saya lakukan selama liburan di antaranya :
1. Menulis 4 postingan di blog
2. Menonton 10 video edukatif di channel Youtube sehari
3. Membaca 10 artikel di situs favorit (itu lho yang suka saya sebut, tirto, qureta, askthephilosopher, de el el)
4. Menonton film terbaik (paling berkualitas) versi blogger tertentu, minimal 1 sehari
5. Khatam 1 judul buku dalam seminggu-an.

Saya 'berjuang keras' untuk ngelakuin 5 hal di atas. Tapi, pada akhirnya saya malah keteran sendiri, nggak enjoy, trus malah ending-endingnya yang saya lakuin cuma setengah-setengah. Dan karena tidak sesuai target, saya jadi merasa gak becus, bodoh, sial, menyedihkan. Saya benci diri saya. Saya benci saya tidak dapat melakukan hal-hal di atas dengan baik dan nikmat.

...

Saya pingin nikmatin liburan ini, saya pingin berlibur tanpa beban pikiran dan tuntutan sekali pun. Tapi, kalo saya gak ngelakuin hal-hal di atas, atau nggak produktif, berarti hidup saya sia-sia. I wasted my time. And i hate my self because of that.

Saya juga sepenuhnya sadar, ketika saya memutuskan bergabung dengan BEM, mengikuti berbagai kepanitiaan, menjadi volunteer pengajar SD di desa, mengikuti seleksi lab, mengikuti lomba, berarti saya keluar dari zona nyaman saya. Katanya, keluar lah dari zona nyaman mu, maka kamu akan lebih bla bla bla, pokoknya lebih baik lah gitu. Saya memang merasa terbebani dengan itu semua. Saya tidak nyaman. Saya capek, saya ini, saya itu. Terutama ketika saya gagal menjalani itu semua, saya makin sedih dan makin membenci diri saya sendiri.

...

Sebenarnya saya capek membenci diri saya ini. Saya capek menuntut banyak hal dari dalam diri saya. Saya ingin mencintai diri saya sepenuhnya, dan menikmati setiap momen.

Saya capek membenci diri saya sendiri....

...

Tapi lucu nya, saya gak bisa berdiam diri. Saya menganggap hidup saya sia-sia dengan tidak melakukan apa-apa. Saya harus tetap bergerak, walau sering gagal, walau saya menanggung beban berat.

Ketika saya membenci diri saya karena gagal menjadi lebih baik, berarti saya benci keadaan saya yang biasa-biasa, sekarang ini. Saya benci menjadi lebih baik. Bukan kah ternyata... Kita memang seharusnya membenci diri kita yang tidak lebih baik?

Bukan kah memang seharusnya kita tidak menyukai berdiam diri, dan tidak membuat diri ini menjadi bermanfaat bagi sesama?

Ketika saya gagal mencapai target kemudian membencinya, bukan kah berarti saya benci menjadi orang yang biasa-biasa saja?

At the end.

Ternyata saya menyadari.

Kalau kita terlalu nyaman dengan keadaan kita saat ini, kalau kita tidak berhasrat untuk mendorong diri kita lebih keras,

Kita tidak akan berkembang

No comments:

Post a Comment