Tuesday, July 4, 2017

Sebagai Penyuka Konten Berkualitas dan Bisa Membuat Kita Terlihat Lebih Pintar

Sebagai penyuka konten berkualitas dan yang bisa membuat saya terlihat lebih pintar. *Buset panjang banget ya judulnya* Saya suka galau.

Saya suka baca buku. Buku apa aja. Dari yang berat sampai yang ringan. Contohnya yang ringan, sebut saja Titik Nol, dan yang berat contohnya Madilog.

Saya suka nonton film. Film apa aja. Dari yang ringan sampai yang berat juga. Sebut saja, yang ringan misalnya Our Times, yang berat Incendies (gua nonton ini awal SMA bo').

Saya suka baca artikel. Kebanyakan yang saya baca emang agak berat. Saya rutin membaca Qureta, Selasar, atau Catatan Pinggir.

Konten-konten 'berat' di atas biasanya dinikmati sama orang-orang pintar, dan juga mereka dapet pinternya dari konten-konten itu. Tapi itu biasanya.

Sehingga, karena saya menyukai konten-konten di atas, saya mempunyai imej "pasti orang pinter juga". "Pasti wawasannya luas, pemikirannya dalem", dan fitnah-fitnah lainnya. Jadinya, saya kadang suka disuruh 'bertanggung jawab' karena menyukai konten berat dan bagus.

"Kamu kok kekanakan/ ga dewasa sih, padahal suka baca" "kamu kok ditanya isu gini doang gatau mau ngomong apa sih, katanya suka baca" "retorika kamu kok jelek sih, katanya suka baca, katanya suka nonton film berkualitas".

Hanya karena sesorang menyukai sesuatu, berarti dia harusnya begini begitu.

Tadi saya bilang, orang-orang biasanya dapet pinternya dari konten tersebut. Kebetulan, saya tidak, oh well, atau belum.

Contohnya, kemarin saya nonton film Arrival di ruang keluarga, di rumah. Bokap gak ikut nonton sih, tapi sesekali ngeliat. Dia bilang ini film ngebosenin banget ngomong mulu. Endingnya dia nanya, jadi ini film poinnya apa. Kebetulan, saya gak ngerti, jadi saya bilang lah sambil ketawa, gatau.

Dan disitu saya seperti melakukan sebuah dosa besar. Kok bisa nikmatin konten berkualitas dan bagus tapi gak ngerti isinya? Tapi gak nambah pinter?

Percaya atau tidak, banyak orang yang ngomong gini ke saya "I thought you were smart".

...

Dan akhirnya saya jadi merasa terbebani for not being what I'm supposed to be. Kadang, malah banyak, mereka yang 'cuma' (saya menulis kata 'cuma' tanpa sedikit pun bermaksud understimate) nonton FTV, nonton drakor, baca situs ecek-ecek, tapi ketika ditanya suatu masalah, lebih cerdas dan dewasa ketimbang saya, yang notabenenya, yang katanya, harusnya lebih pintar dan cerdas.

Saya terbebani.

Saya jadi malu sama diri saya sendiri. Malu sama orang.

Kayaknya saya mesti beralih ke konten yang lebih ringan atau yang lebih 'kekanakan' deh (saya menulis kata 'kekanakan' tanpa sedikit pun bermaksud underestimate), supaya gaada 'beban' dan 'demand' apa-apa.

...

Tapi gak bisa.

Saya suka. Itu selera saya. Dan ketika saya menyukai sesuatu bukan berarti saya harus begini begitu, bukan berarti saya harus kena bagusnya, kena pinternya.

Saya akui saya suka nonton The Daily Vinci Code waktu SD. Tapi apakah saya ngerti ceritanya? Nggak, tapi saya suka. Saya baca Madilog, atau suka baca Catatan Pinggir. Tapi apakah saya ngerti? Nggak juga! Saya sering gak ngerti! Tapi bodo amet, saya menikmatinya

Kalau saya gak ngerti, pasti saya bakal belajar lebih banyak lagi supaya ngerti. Saya bakal memutar ulang film Arrival, Interstellar, Coherence, sambil membaca review dan penjelasan film, dan sambil mencermati ulang. Sampai saya ngerti.

Apakah saya memaksa diri saya untuk jadi pintar dan dewasa dengan konten-konten di atas? Tidak. Saya hanya menikmatinya, enjoy.

Sebenernya masalah ini balik ke masalah manusia yang paling sering terjadi sih. Apa? Kebiasaan menggeneralisasi. Kebiasan kekeh dengan paradigma.

Jadi kesimpulannya apa? STOP bikin penikmat konten bagus jadi merasa bodoh. STOP bikin mereka ngerasa not as what they supposed to be.

...

...

Yaudalah udah jam 2 malem. Ngantuk. Gitu aja curhatan saya malam ini. Makasih lho udah baca misuh-misuh saya malam ini.

...

Toodles!

No comments:

Post a Comment